TEROBOS Angkat Tema : “Potensi Pariwisata Kota Tebing Tinggi”

Forum Diskusi Publik TEROBOS (Teras Obrolan Santai) kembali digelar di Lapangan Merdeka Kota Tebing Tinggi, tepatnya di halaman Monumen Bus Dinas Perpustakaan dan Arsip (DISPERPUS & ARSIP) Kota Tebing Tinggi, Minggu (26/10). Kegiatan rutin yang berlangsung setiap Minggu pagi pukul 07.00 hingga 09.00 WIB itu menjadi bagian dari rangkaian Car Free Day (CFD) yang diselenggarakan Pemerintah Kota Tebing Tinggi.

Pada kesempatan kali ini, TEROBOS mengangkat tema “Potensi Pariwisata di Kota Tebing Tinggi.” Dengan menghadirkan narasumber Aidil, SE, M.Si, selaku Kepala Bidang Pariwisata DISPORA PAR Kota Tebing Tinggi, dan dipandu oleh dua moderator, Anggi Azhar, S.Pd serta M. Sofyan Damanik, S.Pd, (Ketua Koordinator TEROBOS).

Dalam paparannya, Aidil menjelaskan bahwa terdapat tiga potensi utama pariwisata di Kota Tebing Tinggi yang perlu digali dan dikembangkan secara maksimal, yaitu wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan. Ketiga potensi tersebut telah masuk dalam perencanaan pembangunan daerah dan akan direalisasikan secara bertahap melalui program jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Momentum Car Free Day ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Kota dalam menarik minat masyarakat luar untuk datang ke Tebing Tinggi setiap Minggu pagi. Selain berolahraga seperti lari dan senam, masyarakat juga dapat mengikuti diskusi publik, serta menikmati beragam produk UMKM lokal yang disediakan di sekitar Lapangan Merdeka,” ujar Aidil.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Kota Tebing Tinggi yang dikenal sebagai kota toleran, aman, dan damai menjadi modal besar untuk mengundang investor agar bersedia menanamkan modalnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sementara itu, Pemangku Adat Kerajaan Negeri Padang Kota Tebing Tinggi, Dato’ H. Khuzamri Amar, SE, menyampaikan bahwa pariwisata dan budaya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ia menjelaskan, Tebing Tinggi termasuk dalam wilayah adat Kerajaan Negeri Padang, dan pihaknya telah berupaya membangkitkan kembali eksistensi budaya lokal melalui berbagai kegiatan literasi dan dokumentasi sejarah.

“Pemangku adat bersama sejarawan daerah telah menyusun berbagai narasi dan literatur yang menggambarkan sejarah serta kekayaan budaya Kota Tebing Tinggi. Salah satu wujudnya adalah karya tulis Dato’ Dr. Abdul Khalik, sejarawan kota ini, yang telah menelurkan sejumlah buku tentang sejarah dan budaya Tebing Tinggi,” ujar Dato’ Khuzamri.

Tokoh masyarakat Muslim Istiqomah dalam kesempatan yang sama mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap dampak sosial dari perkembangan sektor pariwisata. “Peningkatan kunjungan wisatawan memang membawa dampak ekonomi positif, namun perlu diimbangi dengan pengawasan dari aparat penegak hukum dan masyarakat agar tidak muncul kegiatan negatif seperti kriminalitas, prostitusi, maupun penyalahgunaan narkoba,” pesannya.

Sementara itu, Dr. Abdul Khalik selaku sejarawan yang juga hadir pada kegiatan tersebut menuturkan bahwa Tebing Tinggi memiliki banyak situs sejarah yang dapat dijadikan daya tarik wisata. “Mulai dari makam berbagai etnis, bangunan bersejarah, hingga situs budaya lainnya, semua itu bisa menjadi magnet wisatawan bila dikelola, dipugar, dan dipublikasikan dengan narasi yang menarik serta bernilai jual,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh Ibu Suriani, S.Ag, selaku pengelola Museum Kota Tebing Tinggi. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam merawat serta memaksimalkan potensi cagar budaya yang ada. “Perawatan terhadap situs sejarah dan optimalisasi fungsi museum akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan wisatawan yang datang ke Kota Tebing Tinggi,” ujarnya.

Kegiatan TEROBOS kali ini berlangsung dinamis dan mendapat apresiasi dari masyarakat yang hadir di arena Car Free Day. Selain menjadi ruang dialog publik yang edukatif, forum ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, pemangku adat, dan pelaku budaya dalam mendorong kemajuan sektor pariwisata di Kota Tebing Tinggi.

Dengan kolaborasi berbagai pihak, diharapkan Tebing Tinggi ke depan mampu mengembangkan potensi wisata berbasis budaya dan sejarah sebagai daya tarik utama, sekaligus memperkuat identitas kota yang toleran, aman, dan berbudaya.

(E.Nasution)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *