Garda Terdepan Perangi Bullying: Berani Stop di Kamu
Oleh: Amelia Novita Gosal
Kasus perundungan atau bullying ternyata masih terus bergulir dan terus meningkat terutama di Indonesia. Kasus bullying merupakan masalah yang belum ada jalur penyelesaian yang tepat dan benar.
Bahkan menurut Kementerian Kesehatan atau Kemenkes, sepanjang tahun 2025 saja sudah tercatat 2621 kasus di Program Pendidikan Dokter Spesialis. Angka yang cukup fantastis mengingat ternyata perihal kasus bullying bukannya menurun, bahkan angkanya merosot naik.
Kasus bullying yang terbaru bahkan semakin menjadi-jadi. Seorang mahasiswa Udayana bernama Timothy Anugerah Saputra harus tewas bunuh diri, dikarenakan menanggung beban bullying yang ia alami. Menurut CNN Indonesia, beberapa mahasiswa lintas fakultas seperti fakultas FISIP, FKP dan Kedokteran menertawakan kematian Timothy. Mereka mengejek kematian Almarhum, bahkan membandingkan fisik Almarhum dengan salah satu konten kreator. Bisa dikatakan, ini yang baru terungkap setelah kematiannya. Dan bisa saja Almarhum Timothy juga mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan semasa hidup.
Bagian 1: Pengantar – Mengapa Kita Adalah Garda Terdepan
Dari banyaknya kasus-kasus bullying yang ada, disinilah peran garda terdepan atau barisan pertahanan pertama untuk berani memerangi perilaku bullying.
Dalam kasus bullying yang terjadi, barisan garda terdepan tidak hanya soal sekolah, atau pihak berwenang. Namun yang penulis ingin tekankan adalah peran garda terdepan ini dimulai dari kamu! Iya kamu sebagai individu, terutama yang menyaksikan, mengetahui dan dikelilingi oleh pelaku bullying.
Suara dan tindakan kita sebagai garda terdepan adalah memberikan perlindungan dan tindakan nyata.
Sikap diam kita sebagai seorang saksi malah menjadi fatal dan akan menjadi seperti bensin yang memicu api.
Rantai bullying bisa berhenti jika ada satu orang yang berani memutuskan untuk tidak lagi mendukung, diam dan mentoleransi.
Bagian 2: Kenali Tiga Peran Kunci dan Titik “Stop di Kamu sebagai garda terdepan”
Perilaku bullying biasanya terjadi karena melibatkan 2 pihak atau lebih. Disinilah kita akan mencari tahu bagaimana setiap masing-masing bisa menjadi “garda terdepan”
a. Peran Sebagai Korban (Yang Dibully)
Poin yang harus stop di kamu: berhenti menyakiti diri sendiri dengan cara berani bersuara dan segera meminta bantuan kepada pihak yang berwenang.
Sebagai korban, memang tidak mudah bersuara terutama disaat mengalami seperti ini.
Untuk para korban, tetap penting kapan tahu bertindak, agar bisa segera keluar dari situasi dan mampu mencari dukungan orang yang dipercaya bahkan yang berwenang. Agar setiap korban bisa menjadi garda terdepan untuk dirinya sendiri terutama dalam keadaan genting.
b. Peran Sebagai Saksi (Bystander)
Poin yang harus stop di kamu: berhenti untuk mendukung dalam diam. Artinya adalah sebagai saksi, kita harus tahu sesegera mungkin berani mengambil tindakan.
Hal yang perlu digarisbawahi sebagai saksi adalah perannya sebagai “garda terdepan” yang sebenarnya. Sebagai seorang yang diharapkan sebagai garda terdepan dalam memerangi kasus bullying, para saksi diharapkan agar tidak ikut tertawa dan menjadi bagian dari pelaku bullying. Karena perannya sebagai saksi, diharapkan tindakannya yaitu dengan bisa membantu korban mengumpulkan barang bukti dan ikut melaporkan kejadian bullying sesegera mungkin secara rahasia tanpa diketahui oleh para pelaku.
c. Peran Sebagai Pelaku (Yang Membully)
Poin yang harus stop di kamu: berhenti menjadi sumber masalah dengan cara belajar instrospeksi diri, dan berani bertanggung jawab atas setiap tindakan dan yang terpenting mau berubah.
Menghadapi pelaku bullying memang agak sulit. Biasanya mereka adalah anak dibawah umur dan sulit dikenakan hukum. Namun tidaklah mungkin membuat mereka jera dengan hukuman lain yang bisa dibuat dengan kesepakatan bersama dengan harapan para pelaku bisa sadar dan tidak mengulangi perbuatannya.
Kemudian, dengan para pelaku, kita bisa mulai mencari tahu apa yang melatarbelakangi sikap mereka.
Bagian 3: Panduan Praktis “Berani Stop untuk memulai aksi jadi garda terdepan”
a. Berani Menggunakan Suara
Latih keberanian dengan suara kita, ciptakan batasan tegas kepada para pelaku. Baik sebagai saksi maupun korban, bisa siapkan kata kata seperti, “Cukup”! Atau “Ayo pergi dari sini,” merupakan sebuah keberanian untuk menghentikan situasi, meskipun hanya sementara.
Penting diingat juga bahwa jika tindakan bullying sudah melewati batas kewajaran, wajib melapor. Melaporkan tindakan ini bukan aduan, namun tindakan berani bersuara dan mencari perlindungan. Disinilah peran sebagai garda terdepan sangat dibutuhkan.
b. Mampu Menunjukkan Empati dan Solidaritas
Peran sebagai garda terdepan diharapkan mampu hadir dan menawarkan dukungan kepada korban. Kita bisa mulai dengan melontarkan affirmasi positif, memberikan perhatian seperti waktu, atau ada disisi mereka jika dibutuhkan. Terutama saat melaporkan tindakan bullying, para korban biasanya butuh seseorang yang dipercaya sebagai bentuk dukungan emosional.
Jika keadaan sudah kondusif, ajak para korban dalam berbagai kegiatan positif untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka lagi.
c. Edukasi Diri, Orang Sekitar juga Lingkungan
Cara ini bisa dibuat dengan cara membuat penyuluhan di sekolah, acara masyarakat umum, dan terpenting memanfaatkan media sosial sebagai bentuk kampanye digital. Buat konten yang relate dan mudah dipahami agar jangkauannya semakin luas dan memberikan orang-orang pemahaman dan edukasi terkait bullying.
Jangan lupa sering mengingatkan siapapun bahwa tindakan bullying ini adalah tindakan yang merugikan dan tidak ada manfaatnya.
d. Kepada Pihak yang Dipercaya dan Berwenang
Karena kasus bullying ini terus meningkat dan semakin marak, perlu adanya tindakan tegas yang mampu dibuat oleh pihak yang terpercaya dan berwenang. Buat aturan atau hukuman yang sesuai dan setimpal agar setiap pelaku berpikir matang untuk tidak melakukan tindakan merugikan ini.
Bagian 4: Penutup
Memutus rantai bullying memang bukan perkara mudah. Bahkan tidaklah mungkin disekitar kita, perilaku bullying juga kerap terjadi. Disinilah kita sebagai orang yang akan berada di garda terdepan untuk memerangi tindakan bullying ini.
Tunjukkan keberanian kita hari ini! Jadilah yang pertama angkat bicara saat melihat ketidakadilan. Jadilah yang pertama mengulurkan tangan. Ingatlah, rantai bullying yang menyakitkan itu akan berani stop di kamu! Mulailah peran sebagai pelindung sebagai Garda Terdepan!
“Karena di setiap satu suara yang berani, ada ribuan kebaikan yang terselamatkan“.