THR: Budaya Berbagi, Tapi Jangan Menyakiti

Oleh : Jufri

Menjelang hari raya, bahkan hingga hari raya itu tiba, ada satu istilah yang begitu akrab di telinga masyarakat kita: Tunjangan Hari Raya (THR). Bagi lembaga pemerintahan maupun perusahaan swasta, pemberian THR kepada pegawai dan karyawan telah menjadi kewajiban yang diatur dan dijaga. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghargaan atas kerja keras sepanjang tahun serta upaya menjaga kesejahteraan menjelang momentum kebahagiaan bersama.

Namun di tengah semangat berbagi itu, ada sisi lain yang perlu kita renungkan. Dalam kehidupan sosial masyarakat, THR seringkali dimaknai lebih luas sebagai bentuk pemberian uang atau hadiah kepada anak-anak, kerabat, atau tamu yang datang bersilaturahmi. Tradisi ini pada dasarnya indah, karena mengandung nilai kasih sayang, kedermawanan, dan kebersamaan.

Akan tetapi, keindahan tradisi bisa berubah menjadi beban ketika ia dipaksakan. Mengajarkan anak-anak untuk meminta THR secara langsung kepada setiap orang yang ditemui bukanlah pendidikan yang bijak. Bisa jadi orang yang bertamu atau yang dijumpai sedang berada dalam keterbatasan ekonomi. Ia datang dengan niat menjaga silaturahmi, tetapi justru pulang dengan rasa malu, sedih, bahkan kecewa karena merasa tidak mampu memenuhi harapan. đź’­

Bahkan dalam praktik sosial yang lebih luas, tidak sedikit orang memanfaatkan momen hari raya , sengaja tanpa menyebut istilah tertentu , untuk mendatangi pihak-pihak tertentu atau menunggu kedatangan pihak-pihak tertentu demi mendapatkan THR. Tradisi yang semestinya dilandasi ketulusan berubah menjadi relasi kepentingan. Di sejumlah kantor, fenomena lain pun muncul: para pejabat memilih menghilang sementara waktu, bukan karena kesibukan pekerjaan, tetapi karena beban permintaan THR yang menumpuk dari berbagai pihak. Situasi seperti ini tentu tidak sehat, karena dapat menumbuhkan budaya ketergantungan, tekanan sosial, bahkan membuka ruang praktik yang kurang etis. ⚖️

Lebih jauh lagi, banyak saya mendapatkan cerita dari kawan-kawan yang merantau. Mereka sebenarnya sangat rindu kampung halaman dan orang tua, dan sanak saudara . Namun kerinduan itu harus ditahan karena rasa takut dan malu untuk pulang tanpa membawa kecukupan biaya. Dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti sekarang ini, pulang kampung bukan hanya soal tiket perjalanan, tetapi juga tentang beban ekspektasi sosial — memberi oleh-oleh, berbagi THR, hingga menjaga gengsi di hadapan keluarga dan lingkungan. Akhirnya, sebagian dari mereka memilih bertahan di perantauan, menahan rindu yang mengendap di dada, daripada pulang dengan perasaan tertekan dan menanggung malu. Ini adalah potret sunyi yang jarang terlihat di tengah gegap gempita perayaan.

Budaya THR yang tidak sehat pada hakikatnya juga mempengaruhi kualitas puasa dan hari raya itu sendiri. Ibadah yang seharusnya melatih keikhlasan, kesabaran, dan empati, justru tercampuri oleh tekanan sosial dan rasa keterpaksaan. Tidak sedikit orang yang memberi dengan perasaan dongkol dan jengkel, tetapi tetap memaksakan senyum karena merasa harus memenuhi harapan orang lain. Padahal, memberi dalam keadaan hati tertekan juga dapat menjadi sumber penderitaan batin. Lebih menyedihkan lagi, pemberian itu terkadang jatuh kepada orang yang sesungguhnya tidak layak menjadi tempat bersedekah, sementara mereka yang benar-benar membutuhkan justru luput dari perhatian.

Fenomena yang lebih memprihatinkan lagi, bahkan ada pihak-pihak yang tersandung masalah hukum karena menyuruh orang tertentu mengutip THR dari berbagai kalangan untuk kemudian dikumpulkan kepada pihak tertentu pula. Tradisi berbagi yang seharusnya sederhana dan penuh keikhlasan justru berubah menjadi praktik transaksional yang menyerempet penyalahgunaan wewenang. Pada titik ini, THR bukan lagi sekadar budaya sosial, tetapi bisa menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya perilaku koruptif yang terasa ironis — bahkan tampak “lucu” karena dibungkus dalam suasana perayaan.

Di sinilah pentingnya peran keluarga dan lingkungan. Anak-anak perlu diajarkan bahwa berbagi adalah tentang ketulusan, bukan tuntutan. Bahwa memberi adalah kemuliaan, tetapi berharap berlebihan atau menjadikan pemberian sebagai kewajiban sosial yang memaksa bisa melukai perasaan orang lain. Pendidikan empati sejak dini akan membentuk generasi yang tidak hanya pandai menikmati tradisi, tetapi juga memahami makna kemanusiaan di baliknya.

Hari raya sejatinya adalah momentum untuk membersihkan hati, mempererat hubungan, dan menumbuhkan rasa syukur. Tradisi THR akan tetap menjadi budaya yang indah jika dijalankan dengan kesadaran, kerendahan hati, dan kepekaan sosial. Mari menjaga tradisi berbagi ini agar tetap membawa kebahagiaan, bukan tekanan. Karena silaturahmi yang tulus jauh lebih berharga daripada amplop yang dipaksakan.

Pada akhirnya, budaya berbagi harus memuliakan manusia, bukan justru menyakiti atau mempermalukannya. Itulah esensi perayaan yang sesungguhnya.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *