Perempuan di zaman sekarang tidak bisa dianggap remeh. Banyak berita yang mengatakan tentang kemandirian perempuan yang berpengaruh bagi para pria. Topik soal kemandirian perempuan ini memang cukup hangat diperbincangkan. Bahkan kerap kali memicu perdebatan terkait konteks dalam sebuah hubungan.
Nah, akhirnya jadi memunculkan pertanyaan, apakah kemandirian perempuan ini terlihat sebagai ancaman, tantangan, atau justru sebuah peluang? Bagaimana kita melihatnya tergantung persepsi masing-masing yang akan kita bahas.
1. Kemandirian Perempuan sebagai Tantangan.
- Memunculkan Rasa Insecure. Para pria biasanya merasa kurang dihargai jika melihat pasangannya seperti tidak ‘membutuhkan’ bantuan atau apapun lagi. Para pria merasa bahwa harga dan nilai diri mereka bisa berkurang jika tidak bisa “menyelamatkan” atau bahkan “menjaga” pasangan mereka lagi. Hal ini akan melahirkan perasaan insecure dan biasanya menyalahkan perempuan atas sikap kemandirian mereka.
- Kesulitan akan Mengendalikan Pasangan. Sering kali, kemandirian perempuan ini juga dicap sebagai sesuatu hal “yang tidak bisa diatur” atau sifat “terlalu kuat”. Tentu saja bagi pria, hal ini menjadi tantangan untuk mereka, karena dalam hubungan dimana para pria memiliki kontrol yang lebih besar.
- Hilangnya Peran Tradisional. Peran pria yang lahir dan dibesarkan dengan gagasan sebagai ‘penyedia’ atau juga sebagai ‘pelindung’ akan menjadi seperti ancaman tersendiri bagi para pria. Apalagi terlihat jika kemandirian ini ketika cukup dari segi finansial hingga emosional yang dimana perempuan mulai tidak membutuhkan pria dan ingin fokus pada dirinya sendiri. Hal ini bisa menyebabkan krisis dan identitas bagi para pria.
2. Kemandirian Perempuan sebagai Peluang.
- Hubungan yang Setara. Kemandirian seorang perempuan akan membuka jalan bagi hubungan yang setara. Jika pasangannya juga memiliki sifat yang mendukung, maka, hal ini bisa menciptakan fondasi untuk hubungan yang kuat.
- Fokus pada Kualitas yang Lain. Ketika 2 pasangan yang sudah ditahap saling setara, memahami dan mendukung, maka mereka akan berfokus untuk membangun kualitas yang kurang. Bersama mereka akan bekerja sama untuk mencapai kesepakatan demi menciptakan kualitas yang sama sama disepakati.
- Peluang Untuk Berkembang. Perempuan yang mandiri mampu menjadi motivasi bagi pria atau pasangannya untuk sama sama-sama berkembang. Sehingga kedua individu ini akan berfokus untuk bisa menjadi versi terbaik mereka tanpa perlu insecure satu sama lain.
- Pembagian Beban yang Lain. Jika perempuan mandiri dan bertemu pasangan yang tepat, maka mereka bisa berbagi tanggung jawab dengan adil. Bukan hanya menitikberatkan pada satu pihak saja, namun, bersama berbagi beban yang adil akan bisa mengurangi stress atau tekanan.
3. Penutup.
Kemandirian perempuan memang sebenarnya sangat penting jika dihadapkan pada situasi era saat ini. Namun, hal ini justru akan menjadi ancaman atau tantangan jika para pria masih terjebak dalam pola pikir yang lama atau kolot.
Padahal, bentuk kemandirian setiap perempuan merupakan bentuk nyata perempuan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Kemandirian perempuan bukan untuk melemahkan pria atau mengerdilkan sifat atau kemampuan pria ataupun pasangannya, tapi kesempatan ini untuk mendukung hubungan yang adil dan setara, saling menghargai juga mendukung agar hubungan yang sehat bukan soal dominasi apalagi ketergantungan sepihak saja. Jadi perempuan mandiri itu, menurut anda bagaimana?
Amelia Novita Gosal/Author Prestma