Langkah Kecil yang Membuka Jalan Besar

Pernahkah kamu merasa ragu untuk mengambil jurusan yang bukan berasal dari “basic” pendidikanmu? Aku pernah. Aku adalah lulusan SMA umum, bukan dari madrasah apalagi pesantren. Tapi entah kenapa, hati ini tertarik dengan jurusan Sastra Arab. Jurusan yang katanya hanya cocok untuk mereka yang sudah mempelajari nahwu-sharaf sejak dini.

Awalnya aku juga ragu.

“Bisa nggak ya aku ngikutin pelajaran?”

“Gimana kalau aku ketinggalan jauh sama teman-teman yang dari pesantren?”

Keraguan itu makin besar saat kuliah dimulai. Buku-buku berbahasa Arab menumpuk. Dosen berbicara cepat dengan istilah yang asing. Teman-teman seolah sudah biasa dengan semua itu, sedangkan aku? Meraba-raba di tengah derasnya arus ilmu.

Lebih berat lagi ketika orang-orang di sekitarku juga meragukan. Mereka bilang,

“Emang bisa anak SMA biasa lulus cepat di Sastra Arab?”

“Paling juga nanti ketinggalan.”

Ucapan-ucapan itu sempat bikin aku down. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. Tapi jauh di dalam hati, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa.

Aku belajar pelan-pelan. Aku tanya ke teman, aku rekam suara dosen, aku ulang materi malam hari. Kadang nangis sendiri karena ngerasa bodoh. Tapi aku nggak berhenti. Aku percaya, yang membedakan bukan latar belakang, tapi mindset.

Alhamdulillah, aku nggak sendiri. Aku dibantu oleh orang-orang baik yang nggak pernah capek untuk mengajariku. Mereka sabar menjelaskan ulang, bantu pahamin istilah, dan selalu menyemangati saat aku ingin menyerah. Mereka adalah bagian dari keberhasilanku.

Dulu aku bilang:

“Aku nggak bisa.”

Sekarang aku bilang:

“Aku belum bisa, tapi aku mau belajar.”

Akhirnya aku berhasil lulus tepat waktu.

Bukan karena aku paling pintar. Tapi karena aku tidak menyerah meski diragukan, dan alhamdulillah, dikelilingi orang-orang yang tulus membantuku belajar.

Pesanku untuk kamu yang ragu:

Bukan latar belakangmu yang menentukan masa depanmu.

Kamu bisa belajar apapun, asal mau berjuang.

Jangan biarkan keraguan orang lain jadi kenyataanmu.

Jangan malu untuk belajar dari orang lain itu bukan kelemahan, tapi kekuatan.

Kalau kamu lulusan SMA umum dan ingin masuk Sastra Arab atau jurusan apapun yang katanya “bukan bidangmu” lakukan saja. Bukan soal kamu dari mana, tapi seberapa kuat kamu ingin sampai.

Karena siapa bilang yang bukan dari pesantren nggak bisa?

Aku sudah membuktikan dan aku bisa lulus tepat waktu, meski sempat diragukan, berkat usaha dan doa, serta bantuan dari orang-orang yang tulus mengajariku.

Pelajaran dari Kisah Ini

Banyak dari kita yang merasa tak layak karena merasa tidak punya “basic”, tidak punya bekal, atau tidak punya kemampuan. Tapi sering kali, yang kita butuhkan bukanlah modal besar, melainkan kemauan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga tulisan ini menemani siapa pun yang membacanya di tengah pencarian jati diri, dalam keraguan yang tak kunjung reda, ataupun harapan yang terus kamu pertahankan di dalam diam. Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, bukan tentang siapa yang langsung tahu jalan, tapi tentang siapa yang tetap setia melangkah, meski pelan.

Terus melangkah, karena jalanmu belum berakhir.

Penulis 

Martinah Nafatilopa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *