Membaca buku pelajaran seharusnya sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari anak sekolah dasar. Namun, realitanya, minat membaca di kalangan peserta didik, khususnya di MIN 9 Kota Medan, Sumatera Utara, masih tergolong rendah. Padahal, membaca merupakan kunci utama untuk membuka jendela ilmu pengetahuan. Kurangnya minat membaca ini ternyata membawa dampak yang cukup besar terhadap kemampuan dan prestasi belajar siswa.
Anak-anak yang rajin membaca biasanya lebih mudah memahami pelajaran, lebih kritis, dan lebih kreatif dalam berpikir, sedangkan anak yang malas membaca cenderung pasif, kurang percaya diri saat mengerjakan tugas, dan prestasinya pun sering tertinggal dari teman-temannya. Banyak penelitian membuktikan bahwa ada hubungan positif antara minat membaca dengan hasil belajar siswa sekolah dasar. Semakin tinggi minat baca, semakin baik pula hasil belajar yang didapatkan.
Ada beberapa alasan kenapa anak-anak di MIN 9 Kota Medan, dan juga di banyak sekolah lain, kurang berminat membaca buku pelajaran. Lingkungan yang kurang mendukung menjadi salah satu faktor utama. Kadang, suasana di rumah atau sekolah tidak kondusif untuk membaca, misalnya tidak ada pojok baca yang nyaman, atau suasana kelas terlalu bising sehingga anak sulit konsentrasi. Harga buku yang mahal juga menjadi kendala, karena tidak semua keluarga mampu membeli buku pelajaran tambahan atau buku cerita yang menarik, sehingga anak hanya mengandalkan buku paket dari sekolah yang kadang isinya kurang menarik. Pengaruh gadget dan teknologi juga tidak bisa diabaikan. Gadget memang menawarkan hiburan instan, tapi sayangnya seringkali membuat anak lupa waktu dan malas membaca.
Kurangnya minat membaca buku pelajaran berdampak langsung pada kemampuan anak dalam menyerap ilmu pengetahuan. Anak yang jarang membaca cenderung kurang paham materi pelajaran, sulit mengerjakan soal-soal ujian, dan akhirnya prestasinya menurun. Bahkan, minat baca yang rendah bisa menyebabkan anak kesulitan memahami bacaan, sehingga pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan juga dangkal. Selain itu, anak yang tidak suka membaca cenderung hanya mengandalkan penjelasan guru di kelas. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menimbulkan kesenjangan pengetahuan di antara siswa, bahkan sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Meski tantangannya cukup berat, bukan berarti tidak ada solusi. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan gerakan literasi sekolah. Program literasi seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai terbukti efektif meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswa. Sekolah dan orang tua bisa mengenalkan aplikasi membaca digital atau e-book yang interaktif dan edukatif, sehingga anak tetap bisa belajar sambil bermain teknologi.
Sekolah juga perlu menambah koleksi buku yang menarik dan sesuai usia anak, serta memudahkan akses ke buku-buku tersebut, baik di perpustakaan sekolah maupun melalui program pinjam buku ke rumah.
Sebagai contoh nyata, saya ingin menceritakan kisah tetangga saya sendiri, Ibu Siti dan anaknya, Nurul.
Nurul adalah siswa kelas 5 di MIN 9 Kota Medan di lingkungan kami. Sejak kecil, Nurul memang kurang berminat membaca buku pelajaran. Ia lebih suka bermain game di ponsel atau menonton video di YouTube. Setiap kali ada tugas membaca dari sekolah, Nurul sering menunda-nunda dan akhirnya hanya membaca sekilas tanpa benar-benar memahami isi bacaan. Akibatnya, nilai pelajaran Nurul, terutama pada mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman bacaan seperti Bahasa Indonesia dan IPA, cenderung di bawah rata-rata. Guru-gurunya sering mengingatkan kepada orang tuanya agar lebih memperhatikan kebiasaan membaca anaknya di rumah.
Melihat kondisi ini, Ibu Siti mulai melakukan perubahan. Ia mulai membiasakan membacakan cerita untuk Nurul setiap malam sebelum tidur, bahkan terkadang ikut membaca bersama Nurul di ruang tamu. Selain itu, Ibu Siti juga membatasi waktu bermain gadget dan menggantinya dengan aktivitas membaca buku cerita atau komik edukasi. Awalnya, Nurul sempat protes dan merasa bosan, namun lama-kelamaan ia mulai menikmati kebiasaan baru ini. Bahkan, Nurul mulai tertarik meminjam buku dari perpustakaan sekolah dan ikut serta dalam lomba membaca yang diadakan sekolah.
Perubahan ini berdampak positif pada prestasi belajar Nurul. Nilai Bahasa Indonesia dan IPA-nya mulai meningkat, dan ia menjadi lebih percaya diri saat mengerjakan soal-soal bacaan. Guru-gurunya pun mulai memuji perkembangan Nurul yang kini lebih aktif bertanya dan berdiskusi di kelas. Dengan sedikit usaha dan perhatian, anak yang awalnya malas membaca bisa berubah menjadi pembaca aktif dan berprestasi.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa banyak tokoh sukses yang mengaku berawal dari kebiasaan membaca sejak kecil. Membaca membuat mereka lebih percaya diri, terbuka dengan ide-ide baru, dan mampu menghadapi tantangan dengan lebih baik. Di MIN 9 Kota Medan, banyak juga siswa yang awalnya malas membaca, tapi setelah rutin mengikuti program literasi sekolah, nilainya meningkat dan ia jadi lebih aktif bertanya di kelas. Ini bukti nyata bahwa membaca bisa mengubah masa depan! Kurangnya minat membaca buku pelajaran memang masih menjadi tantangan besar di sekolah dasar, termasuk di MIN 9 Kota Medan. Namun, dengan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan komunitas, serta inovasi dalam kegiatan literasi, minat membaca anak-anak bisa terus ditingkatkan.
Membaca itu bukan beban, tapi jendela menuju masa depan yang lebih cerah. Yuk, jadikan membaca sebagai gaya hidup keren di abad ini.
Karya : Aqimah Al Hanifah