Merawat Akal Sehat dan Silaturahmi di Tengah Perbedaan

 

 

Oleh : Jufri 

 

Selesai berdiskusi dengan Prof Hasrat Efendi Samosir , saya melanjutkan komunikasi dengan Prof Mas Muhammad Qorib , sahabat yang memiliki gaya berbeda dari beliau. Namun justru di situlah letak indahnya: keduanya menghadirkan nasihat yang sama berharganya, meski melalui pendekatan yang berbeda. Saya bersyukur kedua senior saya saling mendekat dan saling memahami. Dalam taraf tertentu ternyata ada hal yang berubah menuju kebijaksanaan yang lebih indah.

 

Prof Hasrat mengingatkan, atau lebih tepatnya kami saling mengingatkan, bahwa dalam menyampaikan pikiran, apalagi kritik, kita harus menggunakan kecerdasan dan akal sehat. Setiap orang memiliki kelebihan sekaligus kekurangannya. Karena itu, kritik tidak boleh kehilangan keadaban. Dalam percakapan tersebut, saya sempat menyinggung perubahan sikap Rismon yang sedang ramai diperbincangkan di masyarakat. Perubahan yang tajam seperti itu memang mudah memantik emosi publik, tetapi di situlah ujian kedewasaan kita: apakah kritik kita tetap berbasis akal sehat, atau justru berubah menjadi luapan emosi tanpa kendali.

 

Di sisi lain, Prof Qorib menegaskan satu hal yang terasa sederhana namun sangat mendalam: perbedaan pikiran tidak boleh menghalangi silaturahmi. Pikiran boleh berbeda, bahkan kadang bertolak belakang. Tetapi sebagai pribadi, kita harus tetap saling menghormati dan menjaga hubungan.

 

Dua nasihat ini terasa saling melengkapi. Akal sehat menjaga cara kita berbicara, sementara silaturahmi menjaga hati kita tetap terbuka. Tanpa akal sehat, kritik berubah menjadi serangan. Tanpa silaturahmi, perbedaan berubah menjadi permusuhan.

 

Pelajaran ini terasa makin relevan hari ini. Ruang publik kita semakin riuh oleh perbedaan pandangan—di media sosial, ruang diskusi, bahkan di lingkar pertemanan. Sayangnya, sering kali yang menguat justru jarak, bukan kedekatan; emosi, bukan empati.

 

Padahal, perbedaan seharusnya memperkaya dialog, bukan memutus persaudaraan. Kita boleh berbeda sudut pandang, tetapi tidak boleh kehilangan adab. Kita boleh keras dalam gagasan, tetapi tetap lembut dalam hubungan.

 

Mungkin inilah yang perlu terus kita rawat: kemampuan untuk tetap waras dalam berpikir dan tetap hangat dalam bersilaturahmi. Karena pada akhirnya, bukan keseragaman yang membuat masyarakat kuat, melainkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

 

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *