Terlalu Dijaga, Terlalu Luka

“Semakin kamu genggam pasir dengan erat, semakin banyak yang jatuh dari sela-sela jari.” Pepatah ini menggambarkan dengan tepat bagaimana hubungan antara kontrol yang berlebihan dan kehancuran kepercayaan dalam keluarga. Di balik niat orang tua untuk melindungi, bisa saja tersembunyi luka yang dalam jika tak diiringi empati dan ruang dialog. Kisah nyata ini mengungkap bagaimana kekangan yang terlalu ketat justru menumbuhkan kebohongan, menjauhkan anak dari keluarga, dan merusak kesehatannya baik dari segi  mental maupun fisik.

Kisah Nyata: Dijaga atau Dicurigai?

Namanya N (inisial samaran). Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat ketat, terutama karena ia adalah seorang anak perempuan. Sejak remaja, ia tidak diizinkan bermain terlalu jauh dari rumah, bahkan hanya sekadar main ke rumah teman perempuan harus melalui proses interogasi terlebih dahulu.

Setiap kali keluar rumah, N merasa seperti tersangka. Orang tuanya selalu menuduh secara tidak langsung:

“Kamu keluar rumah mau apa? Mau ngapain?Sama siapa? Jangan main sama cowok, ya!”

Bahkan saat N hanya pergi sekedar refresh otak keliling desanya saja,ia sering mendapat pesan beruntun penuh kecurigaan. Suatu hari,  ia pulang agak larut malam karena ada kendala macet di jalan, ia dimarahi besar-besaran ketika pulang. Parahnya lagi,  ia di tuduh melakukan sesuatu yg memang tidak ia lakukan.Sejak saat itu, ia lebih memilih diam, menghindari pergaulan, dan menyembunyikan banyak hal dari keluarganya.

Lama-lama, ia mulai memendam apa yang ia rasakan. Seperti;Pura-pura tidak memiliki teman dekat padahal aslinya  memiliki banyak teman dan, Pura-pura sibuk belajar, padahal ia sedang merasa sangat sendiri. Ia menarik diri dari keluarga, sering mengunci diri di kamar, dan semakin malas berinteraksi dengan siapa pun di rumah.

Secara akademik, N tetap berprestasi. Namun, ada yang hilang dari dirinya ,seperti ;kepercayaan, kebahagiaan, dan rasa aman. Setelah lama memendam, N mulai mengalami gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan mental. Ia akhirnya berkonsultasi ke psikolog ,dan didiagnosis mengalami anxiety disorder dan low self-esteem, yang berasal dari tekanan dan overkontrol orang tua.

Mengapa Ini Berbahaya?

Pola asuh seperti ini sering disebut “overprotective strict parenting”, yang menurut studi dalam jurnal Clinical Child and Family Psychology Review (2021), dapat menyebabkan:

•Ketidakmampuan anak untuk membuat keputusan sendiri.

•Meningkatnya rasa takut, cemas, dan perasaan tidak pernah cukup baik.

•Ketegangan hubungan keluarga akibat hilangnya komunikasi dua arah.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, tekanan sosial dan kontrol berlebihan dalam rumah tangga adalah faktor risiko gangguan mental remaja, termasuk stres kronis, depresi ringan-menengah, hingga kecenderungan menyakiti diri sendiri.

Yang paling menyedihkan, dalam budaya tertentu, anak perempuan lebih rentan mengalami hal ini karena dianggap harus “dijaga ketat”. Padahal, menjaga bukan berarti mencurigai. Dan mencintai bukan berarti mengendalikan segalanya.

Sebagai anak muda yang hidup di tengah masyarakat yang masih memegang budaya patriarki dan norma konservatif, saya memahami kekhawatiran orang tua. Dunia memang tidak selalu aman. Namun, mencurigai anak setiap kali ia melangkah ke luar rumah justru mengikis harga dirinya dan merusak kepercayaannya terhadap orang tuanya.

Anak perempuan bukan masalah yang harus dikunci. Mereka adalah pribadi yang butuh dipandu, bukan dituduh. Jika orang tua tidak memberi ruang dan kepercayaan, anak akan belajar menyembunyikan segalanya, bahkan hal-hal penting yang seharusnya dibicarakan bersama.

Pendidikan Emosional Adalah Kunci

Kesehatan mental bukan hanya urusan rumah sakit atau psikolog. Ia dimulai dari rumah yaitu dari cara orang tua memperlakukan anak sebagai manusia yang berpikir dan merasa. Pendidikan emosional harus berjalan sejajar dengan pendidikan disiplin.

 

 

Untuk Ayah dan Bunda……

Terkadang, anak itu bukannya tidak mau cerita. Mereka hanya takut disalahkan, atau bahkan tidak dipercaya. Yuk, jadi tempat yang tenang untuk mereka pulang. Tempat yang tidak membuat  mereka ragu untuk jujur dan terus bersyukur. 

 

Dan untuk kamu, anak muda…

Jika kamu merasa capek, merasa terkekang, itu wajar.Tidak masalah jika kamu ingin didengar.Ceritakan, meski pelan.kamu berhak dimengerti bukan disakiti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *