Selat Hormuz, Arogansi, dan Pelajaran yang Terlambat Disadari

Oleh : Jufri 

 

Masih dalam suasana liburan Lebaran, ketika bertamu ke rumah kerabat di Alahan Panjang, sambil menonton siaran televisi kami sempat berbincang ringan tentang perang, dari sudut pandang masyarakat biasa. Percakapan yang awalnya santai itu perlahan berubah menjadi refleksi yang lebih dalam. Ternyata, mereka pun mulai merasakan dampak dari konflik yang secara geografis begitu jauh dari kehidupan mereka.

 

Pada akhirnya, dunia memang sering belajar dari cara yang paling mahal: krisis. Apa yang hari ini terjadi di sekitar Selat Hormuz bukan sekadar konflik biasa, melainkan simpul dari banyak kepentingan yang bertabrakan—politik, militer, dan energi global.

 

Ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat hingga menyentuh jalur vital ini, dampaknya tidak lagi bersifat lokal. Selat Hormuz adalah nadi dunia. Dari sana, jutaan barel minyak mengalir setiap hari, menghidupi industri, transportasi, bahkan dapur-dapur rumah tangga di berbagai belahan bumi.

 

Maka ketika jalur ini terganggu, dunia tidak perlu menunggu lama untuk merasakan efeknya. Harga energi mulai bergejolak, distribusi tersendat, dan negara-negara yang bergantung pada impor minyak mulai cemas menghitung ulang ketahanan ekonominya. Dalam situasi seperti ini, keputusan Saudi Aramco memangkas pasokan ke Asia bukan lagi sekadar kebijakan bisnis, melainkan refleksi dari tekanan geopolitik yang nyata.

 

Di titik paling konkret, di Alahan Panjang Solok Sumatera Barat sebagai daerah pertanian palawija, dampak itu sebenarnya sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika harga BBM naik, maka pupuk akan ikut naik, ongkos produksi dan biaya panen meningkat, dan pada akhirnya harga pangan ikut terdorong naik. Transportasi pun pasti ikut melonjak. Ketika semua itu bergerak naik secara bersamaan, maka yang terjadi bukan sekadar kenaikan harga biasa, melainkan efek domino yang menjalar ke hampir seluruh lini kehidupan masyarakat. Hal yang sama bisa terjadi pada sektor kehidupan lainnya .

 

Di sisi lain, langkah Donald Trump yang meminta keterlibatan negara lain seperti China dan Jepang untuk ikut mengamankan Selat Hormuz menambah dimensi baru dalam krisis ini. Permintaan itu bahkan disertai tekanan bahwa sebagian besar pasokan energi negara-negara tersebut bergantung pada kawasan Teluk. Dalam kacamata tertentu, ini tampak bukan sebagai strategi yang matang, melainkan respons yang terkesan reaktif—bahkan menyerupai kepanikan dari situasi yang turut dibentuk oleh kebijakan sebelumnya.

 

Sikap dunia pun tidak seragam. Sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Perancis, dan Spanyol secara terbuka menunjukkan keengganan untuk terlibat lebih jauh dalam konflik ini. Penolakan tersebut seolah menegaskan bahwa tidak semua sekutu bersedia mengikuti langkah yang dianggap berisiko memperluas eskalasi.

 

Sayangnya, di tengah situasi genting ini, peran lembaga-lembaga internasional juga tampak melemah. Perserikatan Bangsa-Bangsa yang selama ini diharapkan menjadi penyeimbang global, terlihat kesulitan memainkan peran efektif. Demikian pula Organisasi Kerja Sama Islam yang seharusnya memiliki kedekatan historis dan emosional dengan kawasan, belum menunjukkan daya dorong yang signifikan. Bahkan Badan Otoritas Perdagangan atau forum-forum ekonomi global lainnya tampak tumpul menghadapi krisis yang sangat politis ini. Semua seolah berjalan di tempat, ketika dunia justru membutuhkan kepemimpinan global yang tegas dan berani.

 

Di titik ini, banyak orang mulai melihat ke arah Amerika. Sebagai kekuatan besar dunia, setiap langkahnya memang selalu memiliki gema yang luas. Ketika kebijakan luar negeri dibangun di atas kekuatan dan dominasi, maka risiko yang menyertainya adalah munculnya persepsi arogansi. Dan persepsi itu, cepat atau lambat, akan diuji oleh realitas.

 

Namun sejarah selalu mengajarkan bahwa krisis tidak pernah lahir dari satu pihak saja. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan yang saling memicu, saling membalas, dan pada akhirnya menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Iran dengan posisinya, Amerika dengan kepentingannya, serta aktor-aktor lain di kawasan, semuanya berperan dalam membentuk situasi yang kita saksikan hari ini.

 

Yang sering terlupakan justru mereka yang tidak terlibat langsung. Negara-negara berkembang, termasuk kita, berada di posisi paling rentan. Kita tidak ikut menentukan arah konflik, tetapi harus menanggung dampaknya, mulai dari kenaikan harga BBM, tekanan inflasi, hingga ketidakpastian ekonomi yang merembet ke kehidupan sehari-hari.

 

Di sinilah refleksi itu menjadi penting. Bahwa ketergantungan dunia pada satu jalur, satu kawasan, atau bahkan satu kekuatan, adalah kerentanan yang terus berulang. Dunia modern yang tampak canggih ini ternyata masih sangat rapuh ketika berhadapan dengan konflik di satu titik sempit di peta.

 

Mungkin benar, pada akhirnya akan ada penilaian moral dari masyarakat global, siapa yang dianggap dominan, siapa yang dianggap memicu. Tetapi lebih dari itu, krisis seperti ini seharusnya menjadi pengingat bahwa keseimbangan jauh lebih berharga daripada dominasi.

 

Karena ketika keseimbangan hilang, yang runtuh bukan hanya reputasi suatu negara, tetapi juga stabilitas dunia yang selama ini kita anggap sudah mapan. Dan seperti biasa, yang paling dulu merasakan getarannya adalah mereka yang paling jauh dari pusat kekuasaan. 

 

Bisa jadi krisis yang diciptakan Amerika Serikat melalui Donald Trump ini merupakan percepatan dari kehancuran Amerika Serikat. Bisa jadi Amerika Serikat akan terpecah kepada beberapa negara , sehingga menghilangkan dominasi mereka atas dunia .

 

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni 

 

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *