Pernahkah kamu menghapus sebuah postingan hanya karena satu komentar buruk, meski ada ratusan pujian lainnya? Di dunia digital saat ini, rasa percaya diri bisa runtuh bukan karena kegagalan besar, tapi karena satu ucapan menyakitkan dari seseorang yang bahkan tidak kita kenal. Kita hidup di masa ketika suara orang lain dalam bentuk komentar netizen terdengar lebih keras daripada suara batin sendiri.
Ironisnya, saat ruang ekspresi semakin luas, justru makin banyak orang takut untuk tampil apa adanya. Dulu, kepercayaan diri terbentuk lewat pengalaman hidup dan interaksi nyata. Kini, kita menilainya lewat angka-angka: jumlah likes, views, hingga komentar yang datang silih berganti.
Otak manusia secara naluriah dirancang untuk mengidentifikasi ancaman. Jika dulu ancaman itu datang dalam bentuk fisik, kini hadir dalam bentuk yang lebih halus tapi tetap menyakitkan—penolakan sosial. Satu komentar pedas di media sosial bisa terasa seperti hantaman besar bagi harga diri. Meski dipenuhi komentar positif, yang negatif sering kali lebih membekas. Inilah yang disebut negativity bias, yaitu kecenderungan kita untuk lebih mengingat hal menyakitkan daripada yang menyenangkan.
Bagi banyak anak muda, media sosial telah berubah menjadi panggung pencarian penerimaan. Postingan bukan sekadar berbagi, tapi menjadi ujian: “Apakah aku cukup menarik?”, “Kenapa tidak ada yang menyukai postinganku?”, atau “Apa yang salah dengan diriku?”. Tak sedikit orang membangun citra diri dari apa yang dilihat orang lain, bukan dari pemahaman utuh tentang dirinya. Maka ketika komentar negatif muncul, pondasi itu mudah goyah.
Namun, di tengah bisingnya jagat digital, kabar baiknya rasa percaya diri yang sejati tidak bergantung pada orang lain, melainkan tumbuh dari dalam diri. Kita bisa menjalin hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri, asalkan berani jujur dan mau mendengarkan suara hati.
Langkah pertama, adalah belajar menyaring komentar. Tidak semua pendapat pantas didengar, apalagi diyakini. Kritik yang membangun patut dipertimbangkan, tapi ejekan tak bermakna tak perlu tinggal di kepala. Kita punya kuasa untuk memilih suara mana yang layak diberi ruang.
Langkah kedua, mulai tetapkan standar pribadi. Jangan serahkan harga dirimu pada algoritma atau penilaian dari orang asing. Kamu berharga bukan karena unggahanmu menarik, tapi karena kamu manusia yang utuh, penuh cerita, kekuatan, dan potensi. Standar itu hanya kamu yang bisa tentukan.
Langkah ketiga, perbarui relasimu dengan media sosial. Kurangi waktu untuk sekadar scroll, dan perbanyak waktu mengenal siapa dirimu tanpa perbandingan konstan. Saat kamu berhenti melihat ke luar, kamu akan lebih mudah melihat apa yang benar-benar penting di dalam.’
———-
Di balik layar ponsel, kamu bukan sekadar angka, komentar, atau likes. Kamu adalah sosok yang utuh dengan kekuatan, ketidaksempurnaan dan hak untuk tidak disukai semua orang. Rasa percaya diri bukan tentang siapa yang memujimu di internet, tapi apakah kamu bisa berdamai dengan dirimu sendiri saat semua layar dimatikan.
Jangan biarkan mereka yang bahkan tak mengenalmu, mendefinisikan siapa dirimu sebenarnya.
Raihan Rosidah/author prestasi muda