Profesor yang Lupa Istri: Candaan Buya Hasyim yang Mengundang Tawa di Pengajian Ramadhan

Oleh : Jufri 

 

Malam ini suasana Pengajian Ramadhan 1447 H di Pesantren Modern Muhammadiyah Kuala Madu, Langkat terasa hangat. Jamaah duduk tenang mendengarkan ceramah, namun sesekali pecah oleh tawa. Di tengah suasana itulah Prof. Dr. Hasimsyah Nasution, yang akrab disapa Buya Hasyim, melontarkan sebuah candaan yang ringan tetapi mengena.

 

Dengan gaya bertutur yang santai, beliau berkata bahwa seorang guru besar kadang-kadang terlalu menikmati “rasa” dalam dunia pikirannya. Rasa membaca, rasa berdiskusi, rasa menelusuri makna dari berbagai persoalan kehidupan.

 

“Kadang-kadang seorang guru besar itu bisa lupa pulang cepat,” ujarnya sambil tersenyum. “Bukan karena tidak sayang pada istrinya, tapi karena terlalu menikmati rasa berpikir.”

 

Para jamaah mulai tersenyum. Namun candaan itu belum selesai.

 

Dengan tawa renyah, Buya Hasyim melanjutkan kisahnya. Ia mengatakan, ada kalanya seorang profesor bahkan bisa lupa bahwa istrinya belum ikut bersamanya.

 

“Sudah jalan jauh, baru ingat… istrinya tertinggal. Terpaksa balik lagi,” katanya sambil tertawa. “Itulah resiko jadi guru besar atau profesor.”

 

Sontak jamaah pun tertawa. Candaan itu sederhana, tetapi terasa sangat hidup. Apalagi disampaikan dalam suasana Ramadhan yang penuh kehangatan dan kebersamaan.

 

Di balik humor itu sebenarnya tersimpan pesan yang dalam. Dunia akademik memang sering membuat seseorang tenggelam dalam kenikmatan intelektual. Membaca buku, menulis gagasan, meneliti persoalan, atau berdiskusi tentang ide-ide besar kadang membuat waktu berjalan tanpa terasa.

 

Dalam dunia ilmu, ada kenikmatan yang halus: kenikmatan ketika pikiran menemukan makna baru, ketika sebuah teori terasa menjelaskan realitas, atau ketika sebuah gagasan tiba-tiba terasa terang. Itulah “rasa” yang dimaksud Buya Hasyim.

 

Namun melalui candaan itu, beliau juga seperti mengingatkan bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, kehidupan tetap membutuhkan keseimbangan. Gelar profesor boleh tinggi, pikiran boleh melanglang jauh, tetapi kehidupan tetap berpijak pada relasi kemanusiaan yang sederhana, keluarga, kebersamaan, dan kasih sayang.

 

Barangkali di situlah keindahan cara berdakwah Buya Hasyim. Ia tidak selalu menyampaikan pesan dengan kalimat yang berat. Kadang justru melalui humor ringan, pesan itu menjadi lebih mudah diterima. Orang tertawa, tetapi sekaligus merenung.

 

Ramadhan memang sering menghadirkan banyak pelajaran. Bukan hanya dari ayat-ayat yang dibacakan, tetapi juga dari kisah, pengalaman, dan bahkan candaan yang mengandung hikmah.

 

Dan malam ini, dari sebuah candaan tentang profesor yang “lupa istri”, jamaah di Pesantren Modern Muhammadiyah Kuala Madu bukan hanya pulang dengan tawa, tetapi juga dengan sebuah pengingat sederhana: bahwa ilmu yang tinggi seharusnya tetap membuat manusia semakin hangat dalam kehidupan.

 

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *