Di negeri ini, mencari keadilan dalam pendidikan terasa seperti mengejar bayangan. Rakyat kecil tak pernah benar-benar diberi ruang untuk bernapas. Biaya pendidikan yang tinggi, terutama UKT, menjadi tembok penghalang yang tak semua orang sanggup lewati.
Ketika mahasiswa mengeluh soal UKT yang mencekik, jawaban yang selalu diberikan adalah “cari beasiswa”. Tapi apakah semudah itu?
Beasiswa mensyaratkan prestasi. Syarat nilai, ranking, dan pencapaian akademik menjadi penentu utama. Lalu, bagaimana nasib mereka yang tak punya prestasi akademik luar biasa, tapi punya keinginan kuat untuk belajar? Apakah mereka harus disingkirkan? Apakah sistem ini hanya ingin mencetak sarjana dari anak-anak yang dianggap “pintar” saja?
Padahal, tidak semua orang diberi kecerdasan yang sama, tapi semua orang berhak mendapat pendidikan yang layak. Rakyat tidak menuntut makan gratis. Rakyat tidak minta hidup mewah. Yang mereka minta sangat sederhana: pendidikan yang bisa dijangkau oleh penghasilan mereka yang sederhana.
Wiraswasta yang penghasilannya tidak tetap, buruh harian, petani kecil, pedagang kaki lima, dan PNS golongan rendah.Mereka semua ingin menyekolahkan anak mereka. Tapi ketika biaya kuliah dipatok jutaan rupiah per semester, semua harapan itu seperti dimatikan perlahan.
Wiraswasta hidup dalam ketidakpastian.
penghasilan tak menentu, beban hidup terus berjalan. Bahkan yang terhimpit utang pun masih berjuang demi pendidikan. Tapi sampai kapan negara hanya menuntut, tanpa benar-benar mendengar jeritan rakyat?
Dalam keluarga dengan satu PNS dan ibu sebagai IRT, gaji bukan hanya untuk biaya sekolah. Masih ada kebutuhan hidup lain yang tak bisa diabaikan. Pendidikan penting, tapi apakah negara hanya menuntut, tanpa peduli beban rakyat?
Formulir UKT memang menyediakan kolom penghasilan, utang, dan tanggungan. Tapi tetap saja, hasil akhirnya sering tidak mencerminkan kondisi nyata. Banyak keluarga sudah menyampaikan kesulitan mereka dengan jujur dan lengkap, tapi sistem seakan tak mendengar. Rakyat diminta mengerti sistem, tapi sistem tak pernah mencoba mengerti rakyat.
Jika pemerintah sungguh ingin membangun bangsa, maka pendidikan harus diutamakan, diletakkan di tangan semua anak bangsa. Bukan hanya mereka yang terpilih, tapi juga mereka semua yang mau belajar, berjuang, dan bertahan.
Sudah saatnya negara berhenti memberi jawaban klise dan mulai memberi solusi nyata: bukan beasiswa bagi yang pintar saja, tapi keringanan yang adil untuk semua. Bukan pendidikan yang mahal, tapi pendidikan yang memanusiakan.
Karena pendidikan bukan soal siapa yang mampu, tapi siapa yang diberi kesempatan untuk belajar, berjuang, dan bertahan.