Mentari perlahan menunduk,
melewati cakrawala dengan wajah merah jingga,
laut menjadi cermin sunyi,
menyimpan sisa cahaya dalam riak yang lembut.
Awan-awan menari di atas kepala,
terbakar warna emas dan merah saga,
seakan mereka tahu,
bahwa senja hanya sebentar,
namun keindahannya abadi dalam jiwa yang memandang.
Ombak berlari kecil ke tepian,
menghantarkan pesan terakhir matahari:
“Setiap perpisahan adalah janji,
bahwa esok aku akan kembali,
membawa cahaya kehidupan yang baru.”
Di ufuk jauh,
langit dan laut saling berpelukan,
tak ada batas, hanya keheningan,
mengajarkan tentang persatuan,
bahwa perbedaan bisa larut dalam satu warna senja.
Senja di lautan adalah doa,
doa yang dibisikkan angin,
dituliskan ombak,
dan disimpan dalam dada setiap jiwa yang merindu.
Di hadapan cahaya yang memudar,
kita belajar arti ikhlas,
bahwa indah tak selalu abadi,
tetapi selalu meninggalkan jejak
yang tak pernah bisa dilupakan.
©Nurya Lathifatus Zahra | Author website PRESTMA | Duta prestasi Muda Indonesia