Menteri ESDM Bahlil Lahadalia: Energi, Kekhawatiran, dan Harapan yang Tidak Boleh Padam

Oleh : Jufri 

 

Di tengah kekhawatiran banyak pihak terhadap krisis energi, khususnya BBM sebagai ekses dari konflik di Timur Tengah yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, saya mencoba berhenti sejenak—tidak sekadar membaca berita, tetapi benar-benar merenung. Saya menyimak pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang berbicara dengan penuh semangat, optimisme, namun tetap terasa menyimpan kegelisahan yang manusiawi.

 

Belakangan ini, saya memang sedang mencoba membiasakan diri untuk lebih banyak belajar dan memperhatikan. Tidak mudah, tentu saja. Informasi datang dari berbagai arah, dengan sudut pandang yang seringkali saling bertabrakan. Karena itu, saya merasa penting untuk berusaha mencari sebanyak mungkin perspektif, agar pandangan kita terhadap negara ini—terutama terhadap pemerintah—tetap berimbang. Saya sadar, saya hanya orang yang melihat dari luar, dengan keterbatasan ilmu dan akses informasi. Tapi justru karena itu, saya ingin tetap jujur dalam berpikir: tidak tergesa menghakimi, dan tidak pula terlalu cepat memuji.

 

Dari situlah saya mencoba memahami satu hal sederhana: energi bukan hanya soal angka, tetapi soal keberlangsungan hidup sebuah bangsa.

 

Hari ini, kita tahu bahwa kebutuhan energi kita sangat besar. Untuk solar saja, kebutuhan mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya di kisaran 14 hingga 16 juta kiloliter. Sisanya? Kita tutup dengan impor. Begitu juga dengan bensin—konsumsi kita sekitar 39 hingga 40 juta kiloliter, sementara produksi hanya sekitar 14 juta kiloliter. Maka tidak heran jika impor masih berada di angka puluhan juta kiloliter setiap tahun.

 

Angka-angka ini terasa dingin jika hanya dibaca. Tapi jika dipikirkan lebih dalam, ia menyimpan cerita tentang ketergantungan.

 

Dan ketergantungan itu terasa nyata ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.

 

Konflik di Timur Tengah bukan hanya soal geopolitik. Ia menjalar sampai ke dapur-dapur kita, ke harga-harga yang perlahan naik, ke kecemasan yang mungkin tidak kita sadari. Kita mungkin tidak berada di medan konflik, tetapi dampaknya tetap sampai ke sini—pelan, tapi pasti.

 

Di titik ini, saya mulai memahami nada tegas dari Bahlil Lahadalia ketika berbicara tentang impor. Mungkin bagi sebagian orang terdengar keras, bahkan emosional. Tapi bisa jadi, itu lahir dari kesadaran bahwa kita terlalu lama berada dalam zona nyaman yang salah.

 

Namun di sisi lain, saya juga merasa kita perlu tetap berpijak pada realitas.

 

Membangun kemandirian energi bukan pekerjaan mudah. Tidak cukup dengan niat, tidak selesai dengan satu kebijakan. Ia membutuhkan waktu, biaya besar, dan konsistensi yang tidak boleh putus di tengah jalan. Pembangunan kilang, peningkatan produksi, hingga pemanfaatan energi alternatif seperti biodiesel dan etanol—semua itu adalah langkah penting, tetapi juga penuh tantangan.

 

Maka mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar optimisme, tetapi optimisme yang realistis.

 

Optimisme yang tahu bahwa jalan ini panjang. Optimisme yang tidak mudah goyah, tapi juga tidak menutup mata terhadap kenyataan.

 

Saya pribadi melihat ini sebagai proses belajar bersama, antara pemerintah dan rakyatnya. Pemerintah berusaha mencari jalan, rakyat mencoba memahami. Kadang kita sepakat, kadang kita berbeda pandangan. Tapi selama masih ada ruang untuk berpikir jernih dan saling mengingatkan, saya kira harapan itu tetap ada.

 

Pada akhirnya, kemandirian energi bukan hanya tugas seorang menteri, atau bahkan satu pemerintahan. Ia adalah pekerjaan panjang sebuah bangsa.

 

Dan mungkin, yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai ke tujuan, tetapi apakah kita benar-benar berjalan ke arah yang benar.

 

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, satu hal yang ingin saya pegang sederhana saja: kita boleh khawatir, tetapi jangan kehilangan harapan. Karena seringkali, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tanpa masalah, melainkan bangsa yang tetap melangkah meski tahu jalannya tidak mudah.

 

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *