Kenapa Kita Selalu Minta Maaf Padahal Nggak Salah?

“Maaf, cuma ingin tanya sedikit.” “Maaf kalau ganggu ya.” “Maaf, aku kepanjangan ngomongnya?” Kalimat-kalimat ini sering meluncur begitu saja dari mulut banyak orang, bahkan dalam situasi yang tidak memerlukan permintaan maaf. Tanpa disadari, kata “maaf” menjadi semacam pengantar otomatis yang melekat dalam percakapan sehari-hari terutama saat seseorang mencoba mengambil ruang, bersuara, atau sekadar hadir.

Meminta maaf memang merupakan tanda kesadaran sosial. Tapi saat dilakukan berlebihan, justru bisa menandakan adanya keraguan terhadap diri sendiri. Kata maaf diucapkan bukan karena salah, melainkan karena merasa tidak cukup pantas untuk didengar atau diterima. Seolah-olah keberadaan diri harus ditebus dengan permintaan maaf terlebih dahulu agar tidak mengganggu.

Ada kalanya seseorang terbiasa meminta maaf karena tumbuh dalam lingkungan yang keras, penuh tuntutan, atau minim penghargaan. Saat setiap langkah dinilai, setiap suara dikritik, seseorang bisa jadi mulai meragukan haknya untuk bersuara. Maka, “maaf” menjadi bentuk perlindungan dan sebuah cara untuk meredam penolakan sebelum benar-benar terjadi. Untuk menghindari rasa bersalah yang bahkan belum tentu beralasan.

Kebiasaan ini sering terbawa hingga dewasa. Dalam pertemanan, hubungan kerja, bahkan hubungan asmara, individu yang merasa tidak percaya diri akan terus mengalah, menarik diri, dan memikul beban yang bukan miliknya. Dia akan meminta maaf karena berbicara terlalu lama, karena butuh bantuan, karena merasa tak ingin merepotkan, padahal semua itu adalah hal yang wajar dilakukan sebagai manusia.

Padahal, ada cara lain untuk menunjukkan kesadaran tanpa merendahkan diri. Seseorang bisa mengucapkan terima kasih alih-alih minta maaf. Seperti mengubah, “Maaf ya udah cerita panjang,” menjadi “Terima kasih sudah mau mendengarkan.” Atau “Maaf aku nanya terus,” menjadi “Aku ingin benar-benar paham.” Mengganti kata bukan hanya soal tata bahasa, tapi juga cerminan cara memandang nilai diri sendiri.

Tidak ada yang salah dengan meminta maaf ketika memang melakukan kesalahan. Tapi jika permintaan maaf terus menerus keluar dari ketakutan akan penolakan, mungkin sudah waktunya melihat lebih dalam ke dalam diri: apakah seseorang sungguh merasa pantas untuk hadir, berbicara, dan menjadi diri sendiri?

Karena sesungguhnya, setiap orang berhak untuk berada di dunia ini tanpa terus-menerus meminta izin. Tidak perlu merasa bersalah hanya karena menjadi diri sendiri. Dan mungkin, bentuk keberanian paling tulus adalah saat seseorang berhenti meminta maaf atas eksistensinya, dan mulai berdiri dengan keyakinan bahwa dirinya layak didengar, dilihat, dan dihargai.

 

 

 

Raihan Rosidah/author prestasi muda 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *