Kenalakan remaja. Menjadi salah satu perhatian khusus sebab, sudah banyak kasus nyata akibat dari kenakalan remja ini. Mulai dari tawuran, kasus bullying, hingga sampai di penyalahgunaan obat obatan terlarang. Kasus kenakalan ini bukan hanya soal individual saja, namun ini lebih ke masalah sosial yang kompleks. Namun, kenakalan remaja, menjadi tanggung jawab siapa?
A. Tanggung Jawab Orang Tua dan Keluarga
Keluarga menjadi pondasi serta lingkungan utama yang sangat penting bagi remaja. Menjadi catatan bahwa pola asuh anak menjadi penentu utama karakter anak mereka.
- Pola Asuh yang Kurang Tepat. Orang tua yang terlalu membebaskan anak, atau orang tua yang terlalu mengekang, kedua pola asuh ini biasanya memicu pemberontakan remaja.
- Komunikasi Antar Keluarga yang Buruk. Orang tua yang tidak membangun komunikasi yang tepat dan benar pada anak mereka, atau tidak membiarkan adanya komunikasi yang terbuka, membuat remaja tidak didengar. Mereka akhirnya tidak nyaman berbicara apapun pada orang tua mereka dan menjadikan mereka mencari pelarian yang lain. Atau ketakutan yang lain, perasaan di ‘judge’ oleh orang tua sendiri melahirkan ketidaknyamanan dalam bercerita apapun.
- Kurangnya Perhatian dan Pengawasan. Kebanyakan orang tua sibuk dan larut dalam pekerjaan atau urusan pribadi, sehingga anak-anak remaja ini akhirnya mencari perhatian diluar dan sangat disayangkan, pelarian mereka biasanya cenderung ke arah negatif.
B. Tanggung Jawab Sekolah dan Lingkungan Pendidikan.
- Guru Sebagai Teladan. Peran guru sebagai pengganti orang tua disekolah juga menjadi perhatian khusus. Guru diharapkan bukan hanya mengajar saja, namun, bisa menjadi contoh dan pembimbing.
- Lingkungan Sekolah yang Tidak Aman. Terkadang, lingkungan sekolah juga justru menjadi tempat yang tidak aman. Terkadang, pengaruh dari teman sekolah sangat berpengaruh, misal menjadi pelaku bullying, atau pelaku diskriminasi. Sekolah harusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk seluruh murid. Harapannya agar sekolah mampu dengan jeli berbagai masalah atau pengaruh di sekolah.
- Kurikulum yang Berat. Biasanya, sekolah lebih menekankan atau lebih fokus pada nilai akademis ketimbang memupuk pengajaran pendidikan karakter atau pendidikan moral. Padahal anak anak justru harusnya mendapatkan ajaran nilai, karakter, moral juga etika.
C. Tanggung Jawab Lingkungan Sosial dan Media Massa.
- Pengaruh Teman Sebaya. Tidak bisa dipungkiri, pengaruh teman bahkan hampir memberikan 100% sumbangsih berbagai pengaruh. Tekanan dari teman yang berperilaku negatif, menjadi alasan mengapa banyak anak anak mencoba hal yang tidak seharusnya. Sayangnya masa remaja biasanya menjadi ajang coba-coba jika mereka tidak mampu membentengi diri mereka sendiri dari pengaruh teman-temannya.
- Paparan Konten Negatif. Pengaruh sosial media, berbagai berita di media massa, entah berita kekerasan, gaya hidup hedon, pornografi, akan memberikan pengaruh terhadap remaja yang tidak mampu memfilter mana yang baik ataupun buruk.
- Memberikan Ruang Aman dan Positif. Biasanya hal ini menjadi perhatian khusus beberapa komunitas yang akhirnya mencoba membangun ruang aman untuk remaja. Biasanya komunitas-komunitas ini akan mencoba merangkul dan mengarahkan kegiatan positif agar mengalihkan anak anak remaja untuk melakukan kegiatan dan kebaikan positif.
D. Kesimpulan dan Solusi.
Sebaiknya tidak perlu saling menyalahkan atau menghakimi beberapa pihak saja. Demi kebaikan bersama sudah sepatutnya, kenakalan remaja ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Besar harapannya agar baik semua elemen pihak mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat mampu memberikan solusi agar kenakalan remaja bisa berkurang.
Kerja sama antar pihak pada akhirnya akan membantu anak anak remaja tumbuh menjadi individu yang lebih baik lagi. Sudah sepatutnya, sebagai orangtua, sekolah dan masyarakat menjadi tempat aman dan nyaman yang bisa membuat anak remaja andalkan untuk membentuk kepribadian mereka yang lebih baik lagi.
Amelia Novita Gosal/Author Prestma