Pernahkah kamu merasa kelelahan, tapi tetap tersenyum agar orang lain merasa tenang? Pernahkah kamu jadi tempat bersandar, saat kamu sendiri butuh sandaran? Kadang, kita begitu sibuk menguatkan orang lain, sampai lupa bertanya: siapa yang akan menguatkan kita?
Sering kali, kita menjadi sandaran banyak orang bukan karena kita tak lelah, tapi karena terbiasa menyingkirkan perasaan sendiri. Kita mendengar, menenangkan, dan memeluk orang lain agar mereka merasa lebih baik. Tapi siapa yang memeluk kita saat dunia terasa terlalu sunyi?
Terbiasa Kuat, Tapi Bukan Karena Keinginan
Banyak dari kita tidak pernah benar-benar memilih jadi si paling tegar. Peran itu datang karena keadaan, mungkin karena jadi anak tertua, jadi sahabat yang paling bisa diandalkan, atau karena selalu tampak bisa mengatasi apa pun. Tanpa sadar, kita terlalu sering memikul semuanya sendiri, seolah itu sudah jadi tugas tetap.
Kita jago menyembunyikan lelah dan air mata. Dan karena kita terbiasa terlihat tangguh, orang lain pun lupa bahwa kita juga punya batas. Siapa yang akan mendengarkan kita?
Menghibur orang lain adalah bentuk kebaikan yang tulus. Tapi kalau dilakukan terus-menerus tanpa henti, kita bisa kehilangan energi untuk bertahan. Kita menyemangati saat hati sendiri ingin menyerah. Kita menemani saat diri sendiri merasa kosong.
Dan begitu semua orang kembali ke hidupnya masing-masing, kita sering ditinggalkan sendiri. Dunia hanya melihat peran yang kita mainkan, bukan luka yang kita simpan.
Mengakui Rapuh Itu Bukan Tanda Lemah
Menjadi tempat yang aman bagi orang lain tidak berarti harus menolak kelemahan sendiri. Justru, semakin kita sadar akan luka sendiri, semakin tulus kehadiran kita. Mengatakan, “Aku sedang nggak baik-baik saja”, bukan berarti lemah. Itu artinya berani jujur pada diri sendiri.
Menjadi rapuh adalah bagian dari menjadi manusia. Dan meminta pelukan adalah bagian dari menjaga diri.
Dunia yang Ideal: Saling Menguatkan
Kebaikan tidak seharusnya berjalan satu arah. Kita tidak harus selalu menjadi pemberi tanpa pernah menerima. Dunia yang sehat adalah dunia di mana kita bisa saling menjaga. Di mana kita boleh bilang, “Aku capek,” dan seseorang akan menjawab, “Sini, aku temani.”
Kamu pantas mendapat pelukan, bukan hanya memberi pelukan. Kamu juga layak disayangi, didengar, dan ditenangkan tanpa harus berpura-pura kuat setiap saat.
Raihan Rosidah/author prestasi muda