Aku adalah seorang mahasiswa yang memilih hidup apa adanya.Bukan karena tidak mampu menjadi lebih,tetapi karena sejak awal aku belajar bahwa, hidup tidak seharusnya dibangun diatas pencitraan.Kesederhanaan bagiku bukan sebuah keterbatasan,melainkan kesadaran untuk kita tetap berpijak pada proses dan bertanggung jawab dalam menjalankannya.
Dalam menjalani perkuliahan,aku selalu berusaha bersungguh-sungguh.Kesungguhan itu tidak hanya kutaruh pada bangku kelas dan materi akademik, tetapi juga kehidupan sosial.Aku aktif berorganisasi, mengikuti berbagai perlombaan, dan terus berusaha mengembangkan diri.Semua itu bukan semata demi prestasi, melainkan sebagai bentuk ikhtiar agar ilmu yang kupelajari tidak berhenti di ruang teori,
Aku hidup sederhana karena aku ingin mandiri.Mandiri dalam berpikir, mandiri dalam bersikap, dan kelak mandiri dalam ekonomi.Gaya hidup hedon tidak pernah menjadi tujuan.Aku ingin merasakan jerih payah dari usahaku sendiri, belajar menghargai setiap proses, dan selalu mengusahakan yang terbaik dalam keadaan apapun.
Sungguh disayangkan ketika kita melihat sebagian mahsiswa hari ini justru terjebak dalam budaya hedonisme.Mereka lupa,atau mungkin sengaja lupa bahwa di balik kenyamanan hidupnya,masih ada orang tua yang bekerja keras menanggung biaya pendidikan.Lebih ironis-Nya lagi, ketika kemewahan dijadikan ukuran keberhasilan,padahal kemandirian belum benar-benar diperjuangkan.
Namun,keadilan juga menuntut kejujuran.Tidak semua gaya hidup mewah patut disalahkan.Bagi mereka yang berasal dari keluarga berkecukupan, dan mampu menyelaraskan gaya hidup dengan kondisi orang tua secara wajar dan bertanggung jawab,itu adalah hak.Persoalannya bukan pada seberapa besar yang dimiliki, melainkan pada seberapa sadar seseorang mengatur dan menjalani gaya hidupnya.
Bagiku, keberhasilan sebagai mahasiswa tidak bisa diukur semata dari sebuah angka IPK.Aku tidak menafikkan pentingnya nilai akademik,tetapi aku menolak menjadikan nilai IPK sebagai tujuan utama.Ilmu itu sejatinya bukan bukan sekedar angka di transkrip,melainkan pemahaman yang hidup dan dapat diterapkan.
Percuma IPK tinggi jika ilmunya tidak dipahami.Percuma nilai sempurna jika tidak mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.Pendidikan akan kehilangan maknanya ketika hanya berakhir pada angka, tanpa kerbermanfaatan bersama.
Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya seorang manusia.Artinya,Pendidikan itu bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang pembentukan kesadaran sosial dan tanggung jawab moral.Ilmu seharusnya membumi,bukan meninggi tanpa arah.Artinya,ilmu perlu hadir dalam kehidupan nyata dan mampu digunakan menjawab persoalan di sekitar kita,bukannya malah meninggi karena nilai yang diperoleh semata.
Hal serupa juga kita dapatkan dalam pemikiran Gus Dur yang menekankan bahwa ilmu harus membebaskan manusia dengan membuka cara berpikir,menumbuhkan empati, dan melahirkan keberanian untuk mengabdi.Tanpa hal itu,ilmu hanya akan menjadi beban,bukan cahaya kehidupan.
Aku percaya bahwa, mahasiswa sejati bukanlah hanya mereka yang paling tinggi nilainya, melainkan mereka yang paling siap ilmunya untuk bekerja bagi masyarakat.Pada akhirnya, pendidikan itu bukan tentang siapa yang paling unggul di atas kertas, tetapi siapa yang paling berguna ketika kembali dalam kehidupan realitas.
Aku memilih hidup apa adanya,bukan apa katanya.Berjalan pelan namun pasti, hidup sederhana namun tetap berarti,dan sadar bahwa kita tidak akan menjadi apa-apa tanpa kuasa sang ilahi.Karena, hidup yang benar-benar bernilai bukanlah hidup yang terlihat gemerlap, melainkan hidup yang diam-diam memberi arti manfaat.
©Nurya Lathifatus Zahra | Author website PRESTMA | Duta prestasi Muda Indonesia