Oeh : Jufri
Ada masa dalam perjalanan sebuah bangsa ketika kebijakan tidak lagi dinilai sekadar benar atau salah, tetapi dinilai dari seberapa kuat ia mampu bertahan menghadapi badai zaman. Indonesia tampaknya sedang memasuki fase itu. Di awal pemerintahan Prabowo Subianto, perdebatan publik tidak hanya berkutat pada program dalam negeri, tetapi melompat jauh ke panggung geopolitik dunia.
Kita sedang menyaksikan bagaimana kebijakan domestik tiba-tiba terasa kecil ketika dunia mulai bergejolak.
Program Dalam Negeri vs Realitas Waktu
Program seperti makan bergizi, koperasi rakyat, hingga sekolah rakyat, bagi sebagian orang tampak tidak menjawab kebutuhan mendesak rakyat. Kritik ini wajar. Rakyat hidup dari kebutuhan harian: harga pangan, lapangan kerja, dan stabilitas ekonomi.
Namun sejarah menunjukkan, program pembangunan manusia selalu memiliki sifat yang sama:
biayanya terasa sekarang, manfaatnya terasa belasan tahun kemudian.
Masalahnya, rakyat hidup hari ini — bukan tahun 2045.
Di sinilah ketegangan klasik antara politik jangka pendek dan pembangunan jangka panjang muncul kembali.
Indonesia di Tengah Tarik Menarik Kekuatan Dunia
Dunia hari ini tidak lagi romantis.
Politik bebas aktif semakin sulit dijalankan dalam dunia yang makin terpolarisasi.
Di satu sisi ada blok Barat yang dipimpin United States.
Di sisi lain, muncul kekuatan baru di Timur.
Indonesia tidak bisa sepenuhnya netral, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya berpihak.
Kita seperti berjalan di atas tali: terlalu condong ke satu sisi bisa berakibat fatal, terlalu netral bisa dianggap tidak relevan.
Bagi sebagian kalangan, langkah diplomasi Indonesia hari ini dianggap mengurangi posisi moral di dunia Muslim. Bagi kalangan lain, itu adalah bentuk pragmatisme agar Indonesia tetap aman secara ekonomi dan keamanan.
Kebenarannya mungkin berada di tengah.
Bayang-bayang Selat Hormuz
Ada satu nama tempat yang jarang dibicarakan dalam obrolan warung kopi, tetapi sangat menentukan nasib dapur rakyat:
Strait of Hormuz.
Jika jalur minyak dunia ini terganggu, efeknya akan sampai ke:
harga BBM
harga pangan
inflasi
nilai rupiah
stabilitas sosial
Presiden mana pun akan menghadapi dilema yang sama:
Menjaga subsidi, anggaran terkuras
Mengurangi subsidi, rakyat marah
Ini bukan dilema satu orang. Ini dilema struktural negara berkembang yang masih bergantung pada energi impor.
Politik Kekuasaan Selalu Memiliki Skenario Cadangan
Dalam sistem presidensial Indonesia, selalu ada skenario konstitusional jika terjadi krisis kepemimpinan. Nama Gibran Rakabuming Raka sering muncul dalam berbagai spekulasi politik.
Namun sejarah mengajarkan: pergantian kepemimpinan di tengah jalan tidak pernah terjadi hanya karena rumor. Ia selalu didahului krisis besar — ekonomi, sosial, atau legitimasi politik.
Spekulasi adalah bagian dari demokrasi.
Tetapi realitas kekuasaan jauh lebih kompleks dari sekadar narasi.
Memahami Kepemimpinan di Era Badai Global
Mungkin kita sedang memasuki fase baru sejarah Indonesia:
fase ketika presiden tidak hanya memimpin rakyatnya, tetapi juga harus menavigasi badai global.
Presiden hari ini bukan hanya kepala pemerintahan.
Ia adalah manajer krisis dunia yang kebetulan berdampak pada rakyatnya.
Karena itu, kebijakan bisa tampak tidak populer.
Langkah diplomasi bisa tampak tidak ideal.
Keputusan ekonomi bisa tampak tidak memuaskan semua pihak.
Namun dalam dunia yang semakin tidak stabil, sering kali pilihan yang tersedia bukanlah antara baik dan buruk, melainkan antara buruk dan lebih buruk.
Antara Harapan dan Kewaspadaan
Kecemasan publik adalah tanda cinta pada negeri.
Kritik adalah tanda kepedulian.
Namun kita juga perlu menyadari bahwa dunia sedang berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Indonesia tidak sedang berjalan di jalan datar.
Kita sedang berjalan di tengah badai.
Dan dalam badai, hal pertama yang dibutuhkan bukan kepastian,
melainkan ketenangan, kewaspadaan, dan kesadaran bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh satu peristiwa , tetapi oleh kemampuan kita bertahan melewati banyak peristiwa.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni