Di balik kesederhanaan gorengan yang dijual keliling, tersimpan mimpi besar yang akhirnya terwujud. Kisah Inspiratif ini datang dari seorang gadis bernama Nadira, anak penjual gorengan di pinggir jalan kota Yogyakarta yang kini berhasil masuk ke Fakultas Kedokteran di universitas ternama di Indonesia.
Nadira (19), lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya sudah lama meninggal dunia, ibunya adalah satu-satunya tulang punggung keluarga dengan berjualan gorengan demi menyambung hidup. Sejak duduk dibangku SMP, Nadira membantu ibunya berjualan usai pulang Sekolah, membawa basket berisi tahu isi, bakwan, dan tempe mendoan keliling kampung.
Setiap hari, Nadira belajar di bawah penerangan lampu rumah kontrakan mereka. Ia gak pernah malu meski sering dicibir karena bau minyak goreng yang menempel diseragam sekolah. Di balik lelahnya, Nadira terus menabung mimpi: menjadi dokter agar suatu hari ia bisa membantu banyak orang, termasuk keluarganya sendiri.
Selama SMA, ia selalu menjadi siswa berprestasi meski harus berbagai waktu antara belajar dan berjualan. Ia terbiasa belajar dari buku bekas, mengikuti beasiswa tambahan di luar jam sekolah, hingga mengikuti try out gratis.
Berkat ketekunannya, Nadira mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah untuk mengikuti tes masuk Fakultas Kedokteran. Ia lolos berkat nilai akademiknya yang cemerlang dan semangat hidupnya yang tak pernah luntur. Kini, ia remis menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM.
Kisah dari Nadira mengajarkan kita sesuatu penting, yaitu kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Banyak orang memilih menyerah karena keterbatasan ekonomi, tapi nadira membuktikan bahwa perjuangan dan keikhlasan membuahkan sebuah hasil.
“Aku cuma mau bilang ke anak-anak di luar sana, jangan pernah malu memiliki orang tua yang hanya pedagang kecil. Bukan soal darimana kita berasal, tapi ke mana kita melangkah nanti.” —Nadira.
Banyak pihak yang kini lebih peduli akan akses pendidikan bagi anak-anak dari prasejahtera. Sekolah, yayasan, dan pemerintah semakin sadar pentingnya memberikan ruang dan kesempatan bagi mereka yang memiliki mimpi yang besar.
Kesimpulannya
Kisah Nadira memang bukan kisah asli dan cuman sebuah karangan tapi dia mengajarkan sesuatu penting. Dia memang hanya anak dari penjual gorengan tapi mimpi dan harapannya tak pernah pudar meski keterbatasan ekonomi. Cita-cita juga tak memandang latar belakang siapapun, asalkan mau terus berusaha karena tidak ada yang mustahil di dunia ini.
📍Oleh: Fauziyyah Julianni/Author PrestmaÂ