Di ruang Putih Itu
Oleh: Leni Ariska
Kala itu Aku ingat heningnya ruang penuh cahaya
Namun gelap renung tak berpenghuni
Menyelimuti tubuh terperangkap,
Dengan dinding putih sebagai saksi
nan lemari peot yang kokoh melihat, seakan mangatakan
“Runtuh hatimu memecah gedang telinga seisi ruangan ini”
sesak tak mampu menahan buliran air mata
berderai tak kunjung ingat menghentikannya
terlihat rona merah di lingkaran mata
Tak lain membungkam pikiran dengan porak porandanya
dengan selimut memeluk tubuh, meringkuk di setiap helai kain
Bantal seakan berkata;
“Tolong peluk lebih erat, kan ku seka air mata yang kian menderas”
insan itu tumbuh dengan peluh air mata
di ruangan putih itu saksinya