Korban bullying yang bangkit menuju prestasi tingkat nasional:
Dulu, aku hanyalah seorang remaja yang sering kali menjadi sasaran ejekan.
Kata-kata seperti “hitam,” “jelek,” “dekil,” bahkan “nggak bisa apa-apa” “orang yang nga cantik,ngapantes tampil” “kamu nga usah tampil,karna kamu kurang menarik” “kamu nga layak jadi peraih mendali itu, harusnya aku”. begitu sering mampir ke telingaku.
Tak cukup sampai di situ, kemampuan berbicara di depan umum pun pernah diremehkan. Ada yang bilang aku tidak akan pernah bisa public speaking,ada juga yang bilang aku nga layak bisa dapat meraih mendali emas itu,ada juga yang bilang kamu aja sering grogi,masa kamu yang ditunjuk tampil, suara kamu nga bulat jadi nga cocok jadi MC,apalagi memiliki skill yang diakui orang lain.
Awalnya, semua itu membuatku terpuruk. Setiap ejekan terasa seperti menempel di dinding pikiranku, membentuk keyakinan keliru bahwa aku memang tidak berharga. Tetapi, di tengah rasa sakit itu, muncul satu pertanyaan yang terus mengusik:
Apakah aku akan terus membiarkan mereka mendefinisikan siapa diriku?
Membiarkan mereka mengetahui diriku tanpa melihat bagaimana kemampuan yang ada dalam diriku?
Apa aku harus selalu diremehkan?
Dulu, aku adalah anak yang sering menjadi sasaran ejekan. Bukan karena aku melakukan kesalahan besar, tapi hanya karena warna kulit dan fisik yang berbeda dari sebagian teman-temanku. Setiap kata yang mereka ucapkan menusuk lebih tajam daripada luka fisik. Senyuman pura-pura menjadi tameng, padahal di dalam hati ada rasa sakit yang sulit diungkapkan.
Namun, saat itu aku belum menyadari satu hal penting: mereka yang mengejek hanya melihat dari permukaan, bukan isi hati dan kemampuan yang aku punya.
Titik Balik Perjalanan ini:
Ada satu momen yang mengubah cara pandangku. Aku sadar, kalau aku terus diam, aku akan membiarkan mereka mendikte hidupku.lalu Aku memutuskan untuk mengubah rasa sakit menjadi bahan bakar untuk mulai berkembang.
Aku mulai mengasah kemampuan, ikut kegiatan positif, memperluas wawasan, dan mencari lingkungan yang mendukung. Setiap ejekan yang dulu membuatku ingin menyerah, kini menjadi pengingat bahwa aku punya alasan untuk membuktikan diri ini pantas dihargai lingkungan sekitar dan tidak lagi dibully
Aku mulai mencari cara untuk membuktikan bahwa diriku lebih dari sekadar label yang orang lain berikan.
Perlahan, aku berani mengambil peluang—meski ketakutan masih menghantui. Aku belajar berbicara di depan umum, mengikuti kegiatan organisasi, dan melatih skill yang dulu dianggap tidak mungkin aku miliki.
Setiap tantangan yang kuhadapi menjadi latihan mental bagi diriku,Setiap kali aku gagal, aku memaknainya sebagai pelajaran, bukan alasan untuk berhenti tapi demi proses yang sudah dilewati.Aku mulai menyadari bahwa rasa takut bukanlah musuh, melainkan tanda bahwa aku sedang tumbuh.
Dimana aku Meraih Panggung Pengakuan.
Perjalanan itu tidak mudah. Ada air mata, ada lelah, ada hinaan dan ejekan yang aku terima bahkan ada hari-hari ketika aku ingin berhenti. Tapi setiap langkah kecil membawa perubahan. Hingga akhirnya, kerja keras itu membuahkan hasil: aku terpilih menjadi Duta Penggerak Muda Indonesia.
Bukan hanya gelar yang aku dapat tapi nominasi sebagai best fashion 2, menang olimpiade tingkat nasional, akademik dan non akademik yang seimbang,meraih mendali emas tingkat nasional,terlibat dalam beberapa komunitas online maupun offline, anggota pelajar penggerak angkatan 2, vice distrik manager YRI Sumatera 1,menjadi award sayembara beasiswa pon Indonesia.mungkin jika aku tidak berani memulai dan merakit mimpi itu,keberanian untuk berdiri di depan banyak orang dan berkata, “Dulu aku dibully, tapi sekarang aku berdiri di sini, membuktikan bahwa aku lebih dari apa yang mereka katakan.” itu hanya khayalan yang tidak akan terjadi,namun jika aku lawan dan terus mencoba itu akan berhasil seperti yang aku rasakan saat ini.
Perjalanan ini akhirnya membawaku pada pencapaian yang dulu bahkan tak berani aku bayangkan.
Aku terpilih menjadi Vice District Manager Youth Rangers Indonesia wilayah Sumatera, sebuah posisi yang memintaku memimpin, berkolaborasi, dan memberikan dampak nyata bagi anak muda bahkan lansung turun kelapangan.
Tak berhenti di situ, aku juga dianugerahi gelar Duta Penggerak Muda Indonesia, sebuah kehormatan yang menjadi bukti bahwa mimpi yang dulu terasa mustahil kini nyata di genggamanku.
Di sisi lain, hobi menulis yang dulunya hanya menjadi pelarian dari rasa sedih setelah ditinggalkan kini berubah menjadi sumber penghasilan. Tulisanku tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga menjadi jembatan untuk menyebarkan pesan positif kepada lebih banyak orang.
Pesan untuk yang Masih Berjuang:
Aku belajar satu hal: bullying tidak menentukan masa depan kita, kecuali kita mengizinkannya.
Jika kamu sedang berada di posisi seperti aku dulu, ingatlah:
Nilaimu tidak ditentukan oleh komentar orang lain.
Gunakan rasa sakitmu sebagai kekuatan untuk bangkit.
Cari lingkungan yang mendukung pertumbuhanmu.
Buktikan bahwa kamu punya kendali atas hidupmu.
Hari ini, aku tidak lagi dibully. Bukan karena dunia ini tiba-tiba menjadi lebih ramah, tapi karena aku sudah cukup kuat untuk berdiri melawan arus. Aku belajar bahwa ketika kita berdamai dengan diri sendiri, dunia perlahan akan belajar untuk menghargai kita.
Untukmu yang mungkin masih merasakan luka yang sama, percayalah: bullying bukan akhir dari cerita, tapi bisa menjadi awal dari kebangkitan. Jangan biarkan mereka yang merendahkanmu menentukan nilai dirimu. Bangkitlah, temukan kekuatanmu, dan tunjukkan bahwa kamu jauh lebih besar daripada kata-kata mereka.
Author:SONIA SUKMA WIJAYA