Oleh : Edo_Nasution
TEBING TINGGI – Ada yang selalu dirindukan setiap Ramadan di Masjid Raya Nur Addin. Bukan sekadar lantunan ayat suci atau ramainya saf salat, tetapi juga aroma khas bubur daging yang menjadi takjil legendaris masjid bersejarah tersebut.
Tradisi pembagian bubur daging ini telah mengakar kuat dan dilaksanakan setiap hari selama bulan suci Ramadan. Usai sholat Asar, jamaah yang hadir akan menerima takjil bubur daging untuk berbuka puasa.
Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Mesjid Raya, H. Khuzamri Amar, SE, saat diwawancarai menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa, melainkan warisan sejarah yang telah berlangsung sejak era kerajaan.
“Pembagian bubur daging ini merupakan tradisi dari zaman kerajaan dulu. Mesjid Raya ini bagian dari sejarah Kerajaan Melayu di Kota Tebing Tinggi, yakni Kerajaan Negeri Padang. Alhamdulillah, sampai hari ini masih terus kita laksanakan selama satu bulan penuh Ramadan,” ujarnya.
Menurutnya, dahulu pembiayaan bubur daging sepenuhnya bersumber dari para dermawan yang dengan sukarela menyumbangkan rezekinya. Namun seiring waktu, BKM Mesjid Raya kini telah memiliki amal usaha yang memungkinkan pembiayaan dilakukan secara mandiri.
“Kalau dulu kita mengandalkan para donatur. Sekarang, dengan adanya amal usaha masjid, kita sudah bisa membiayai sendiri. Ini bentuk kemandirian sekaligus komitmen untuk menjaga tradisi,” tegasnya.
Tak hanya menjadi menu berbuka, bubur daging ini juga menjadi simbol kebersamaan dan kesinambungan sejarah. Di tengah arus modernisasi, Mesjid Raya Nur Addin tetap menjaga identitasnya sebagai pusat ibadah sekaligus penjaga tradisi Melayu yang sarat makna.
Bagi warga Tebing Tinggi, Ramadan belum lengkap rasanya tanpa mencicipi bubur daging khas Mesjid Raya. Sebuah hidangan sederhana, namun menyimpan jejak sejarah panjang dan semangat berbagi yang tak pernah padam.