Manusia adalah makhluk sosial. Dan kita pasti membutuhkan orang lain. Dalam membangun hubungan sosial, pertemanan menjadi bagian dari hubungan sosial. Namun, mencari teman bisa dari siapa saja dan dimana saja. Apakah memang semudah itu? Apakah tidak perlu ada semacam ‘seleksi’ untuk mencari teman? Atau perlu ‘sefrekuensi’?
Nyatanya, kita sering kali memilih teman yang jika bisa sefrekuensi dengan diri kita sendiri. Sefrekuensi bukan semata mata yang memiliki hobi sama, kesukaan yang sama. Namun nilai frekuensi lebih dari itu.
Maksud sefrekuensi disini adalah orang yang memiliki kesamaan nilai, bisa juga selera humor, cara berpikir, atau sevisi dan semisi. Namun tentu saja, kita tidak bicara soal spektrum, tapi sebuah hubungan spesial antara sahabat yang memiliki nilai yang hampir sama. Satu contohnya, misal ada yang sangat bertolak belakang, nyatanya hubungan pertemanan mereka awet dan cocok-cocok saja.
I. Argumen Mengapa Sefrekuensi itu Penting (Sisi Positif). Persahabatan atau pertemanan itu pastinya membutuhkan komunikasi yang cocok. Agar obrolan mengalir terus, lebih mudah menemukan topik, saling memberikan umpan balik yang tepat, dan seni memahami ini bisa didapat jika mereka memiliki frekuensi yang sama dan tepat.
Biasanya, kita cenderung akan mencari teman yang bisa memahami dan mengerti kita tanpa ada embel embel, dan cepat memahami perasaan kita. Nah, ternyata, jika memiliki teman yang sama atau sefrekuensi, mereka akan lebih mudah memahami, mengerti, dan bisa memvalidasi perasaan kita. Ini akan berpengaruh pada kepercayaan dan kesehatan mental diri sendiri.
Selain mereka lebih cepat memahami dan mengerti, mereka yang sefrekuensi cenderung akan memberikan dukungan dan empati yang relevan. Entah karena mereka pernah ada diposisi itu atau mereka bisa membayangkan hal yang kita alami dan mereka juga bisa diandalkan dalam keadaan apapun.
Tentu saja pertemanan yang seimbang dan tepat, kita akan memiliki hubungan pertemanan yang berkualitas. Kita tidak perlu khawatir bagaimana menghabiskan waktu dan tentunya yang paling terpenting, kita bisa menghindari konflik atau drama yang tidak penting.
II. Argumen Mengapa Sefrekuensi Tidak Selalu Mutlak (Sisi Negatif/Batasan). Hubungan yang sefrekuensi tidak serta merta selalu positif. Seperti jika terlalu nyaman dengan suasana yang sefrekuensi ini, terkadang hal-hal bisa berubah bisa menjadi monoton. Ini karena kita jarang mendapatkan perspektif baru dan cenderung di hal yang sama dalam relatif waktu yang lama.
Perbedaan tidak selamanya buruk. Begitu juga harusnya dalam pertemanan. Bertemu orang-orang baru dan berbeda bisa meluaskan wawasan dan perspektif baru yang tidak kita bayangkan sebelumnya.
III. Keseimbangan: Mencari Titik Tengah. Alih alih berusaha mencari hubungan yang sefrekuensi, mungkin lebih baik jika kita mencari kesamaan dalam nilai nilai yang lebih penting, seperti integritas, kejujuran, atau saling menghargai.
Pertemuan yang sehat, adalah bagaimana kedua belah pihak bisa saling mendukung, saling mengisi satu sama lain, dan bertumbuh didalamnya. Jadi, selain menunggulkan nilai sefrekuensi, lebih baik mencari pertemanan yang seimbang dan berkualitas.
IV. Kesimpulan. Meskipun memang tidak munafik, kita semua ingin mencari teman yang ‘sama’ dengan kita. Namun apakah memang hubungan pertemanan begitu yang baik dan berkembang? Bisa saja, hal-hal ini hanya berlangsung di awal saja.
Pertemanan sejati itu dibangun atas saling menghargai, penerimaan dan saling bertumbuh. Tidak didasari dari hanya ingin mereka klik saja. Sebab, dalam pertemanan kita juga diuji dari segala aspek. Dan ujian ini akan menentukan seberapa besar dan berkualitas pertemanan yang kita bangun.
Apapun bentuk pertemanan itu, masing-masing orang yang berhak memilih. Mau sefrekuensi atau tidak, yang penting orang-orang dalam pertemanan ini saling bertumbuh dan berkembang secara baik dan positif. Apalagi jika pertemanan ini diusia yang bukan muda lagi. Saling melengkapi, menghormati dan menghargai serta berikan yang terbaik untuk pertemanan kalian agar awet dan berlangsung lama ya!
Amelia Novita Gosal/Author Prestma