Dari Kuas ke Stetoskop
Perjalanan Tak Terduga Seorang Calon Bidan Politeknik Kesehatan Padang – Tidak semua langkah menuju masa depan berjalan lurus. Kadang, jalan itu berliku dan tak terduga. Seperti yang dialami oleh Indah, seorang mahasiswa baru Prodi Sarjana Terapan Kebidanan, yang perjalanannya dimulai bukan dari laboratorium, melainkan dari dunia seni.
Dulu, Indah sempat meragukan dirinya sendiri. Dua kali ia mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dua kali pula ia harus menerima kenyataan pahit: gagal. Saat pengumuman siswa eligible SNBP keluar, namanya sempat muncul—memberi harapan besar. Namun harapan itu pupus beberapa hari sebelum pengisian data, ketika kuota dikurangi dan namanya tereliminasi.
“Saat itu rasanya hancur banget. Seolah perjuangan panjang buat SNBP selesai begitu aja,” kenangnya.
Di titik itu, ia hampir memilih menyerah pada arus. Minatnya terhadap seni membuatnya melirik kampus seni. Bukan tanpa alasan—kedua orang tuanya adalah seniman, dan tanpa bimbingan langsung pun, ia sudah menorehkan karya lewat mural dan lukisan. Dunia seni adalah ruang yang nyaman bagi Indah.
Namun, justru di kenyamanan itulah muncul pertanyaan besar dalam dirinya.
“Kenapa aku nggak coba sesuatu yang beda? Orang tuaku udah hebat di seni. Masa aku cuma ngikutin?”
Pertanyaan itu menjadi titik balik. Muncul ketertarikan pada dunia kesehatan, terutama kebidanan. Berbekal rasa penasaran sejak SMA terhadap pelajaran sistem reproduksi manusia, Indah memutuskan untuk banting setir. Ia mulai menggali informasi, berdiskusi dengan guru BK, hingga akhirnya mantap memilih jalan baru: menjadi bidan.
Pilihan itu tak mudah. Ia meninggalkan jalur UTBK dan SNBT, hanya mendaftar di satu tempat: Politeknik Kesehatan Padang. Sayangnya, di jalur pertama ia kembali gagal.
“Sedihnya luar biasa. Tapi aku tahu, ini belum akhir.”
Ia kembali belajar—tanpa bimbingan, hanya lewat YouTube, buku, dan soal-soal latihan. Di jalur kedua, ia berhasil lolos tahap Computer Based Test (CBT), meski sempat pesimis karena merasa soalnya sulit.
Tes tahap kedua dijalaninya sendirian. Untuk pertama kalinya, ia pergi jauh sendiri, tanpa didampingi siapa pun. Ketakutan, keraguan, dan kelelahan ia hadapi sendiri.
Dan akhirnya, pengumuman itu tiba.
“Alhamdulillah… aku lolos.”
Perjalanan panjang dan penuh keraguan itu berakhir manis. Dari seniman otodidak menjadi calon tenaga kesehatan. Dari mural ke praktik kebidanan. Sebuah keputusan yang penuh keberanian dan tekad.
Kini, Indah tak hanya menjadi mahasiswa baru di kampus kesehatan, tetapi juga simbol bahwa keyakinan dan keberanian untuk berubah bisa membawa kita ke tempat yang lebih baik.
“Aku lebih mampu dari yang aku pikirkan.”
Dan kini, ia membuktikannya.