Oleh : Jufri
Beberapa waktu terakhir, saya sering mendengar satu kalimat yang diucapkan dengan nada santai, bahkan disertai tawa: “Gibran saja bisa jadi wapres, masa itu saja nggak bisa.”
Kalimat ini terdengar ringan, seolah hanya selingan dalam percakapan sehari-hari. Tapi entah kenapa, setiap kali saya mendengarnya, ada rasa yang tidak ikut tertawa, itu adalah protes dalam bahasa yang menyindir.
Nama Gibran Rakabuming Raka dalam kalimat itu bukan lagi sekadar nama. Ia telah menjadi semacam simbosimbol perbandingan, simbol harapan yang dipaksakan, sekaligus simbol dari kegelisahan yang tidak selalu terucap secara terang-terangan.
Saya membayangkan, kalimat itu mungkin lahir dari situasi sederhana. Seseorang yang mengurus sesuatu di kantor, sudah mengikuti prosedur, sudah berusaha sabar, tapi tetap terbentur. Lalu dalam kelelahan itu, ia mencoba mencairkan suasana dengan humor yang menyindir seperti itu. Tawa pun muncul. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang sebenarnya sedang retak.
Masyarakat tentu tidak bisa disalahkan jika bersikap dan beranggapan seperti itu, karena memang realitanya seperti itu. Ini adalah persoalan etika dan moralitas berbangsa yang akhirnya menjadi bahagian dari cacat sosial yang dimaklumi dan sekaligus ditertawakan.
Saya pribadi melihat ini bukan sekadar fenomena bahasa atau candaan. Ini adalah cara masyarakat “berbicara” ketika ruang formal untuk menyampaikan kegelisahan terasa jauh. Humor menjadi jalan tengah, tidak terlalu keras, tapi cukup tajam untuk menyentuh realitas.
Yang membuat saya semakin merenung adalah ketika kalimat ini mulai sering diulang, di berbagai tempat, oleh berbagai orang. Ia seperti kehilangan konteks awalnya, lalu berubah menjadi semacam pembenaran. Seolah-olah, jika sesuatu bisa terjadi di satu level, maka segala sesuatu juga bisa “diusahakan” dengan cara yang sama di level lain.
Di titik itu, kita tidak lagi sekadar bercanda. Kita sedang membentuk cara pandang.
Padahal, dalam kehidupan berbangsa, ada hal-hal yang seharusnya tetap dijaga: kejujuran dalam proses, kesabaran dalam usaha, dan kepercayaan bahwa sesuatu yang baik memang butuh jalan yang benar. Jika semua mulai diukur dari “siapa yang bisa” bukan “apa yang benar”, maka perlahan kita menggeser nilai itu sendiri.
Saya tidak menolak humor. Kadang kita memang butuh tertawa untuk bertahan. Tapi mungkin, sesekali kita juga perlu jujur pada diri sendiri: apakah yang kita tertawakan itu benar-benar lucu, atau hanya cara halus untuk menutupi rasa kecewa?
Karena bisa jadi, yang sedang kita hadapi bukan sekadar candaan yang lewat begitu saja. Tapi sebuah tanda, bahwa ada sesuatu dalam cara kita melihat keadilan, yang diam-diam sedang berubah.
Dan perubahan itu, jika dibiarkan terlalu lama, bisa membuat kita terbiasa dengan hal-hal yang seharusnya tidak pernah dianggap biasa.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni