Tidak bisa dipungkiri, siapa waktu kecil dulu, temannya ada dimana mana? Semua pasti begitu iya, kan? Dulu itu berteman rasanya bebas, berteman dengan siapa saja, dari kalangan manapun, mau dari kalangan sekolah, sampai ke jenjang universitas.
Namun, makin kesini, rasanya lingkar pertemanan kita sudah tidak sama lagi seperti dulu. Jumlahnya juga makin mengerucut. Dulu rasanya pertemanan rame sekali, sekarang, hanya beberapa saja yang masih menetap, bahkan bisa dihitung jari.
Ternyata, hal itu sah-sah saja dan wajar sekali. Seiiring kita bertambah usia, fenomena ini pasti dialami oleh siapapun. Tentunya bukan salah kita. Bukan juga karena kita “antisosial” atau bahkan tidak laku. Tapi yang kita alami ini bagian dari proses pendewasaan.
Tentu saja ada beberapa faktor kenapa circle kita semakin mengecil, ini ada beberapa contohnya,
1. Fokus menata hidup. Nyatanya, semakin beranjak dewasa, prioritas kita juga ikut berubah. Dulu hanya tahu bersenang-senang, sekarang harus berkutat dengan kerjaan dan masa depan.
2. Tanggung Jawab. Ketika kita dewasa, pada akhirnya, kita harus mulai mengatur tanggung jawab untuk diri kita sendiri, keluarga hingga anak. Dengan memenuhi tanggung jawab, dibutuhkan waktu, tenaga, dan mental yang sangat memungkinkan kita menjadi jarang untuk sekedar hangout atau bersenang-senang.
3. Faktor Seleksi Alam. Saya yakin semua sudah mendengar kata-kata ini. Dalam hal berteman, pada akhirnya, semakin kita menjadi dewasa, kita juga akan cenderung memilih orang-orang yang sepaham, sepengertian, yang lebih relevan dan yang mengenal kita jauh lebih banyak dan baik. Berbeda saat masih muda, kita seringnya asal-asalan memilih, namun itu sangat berbeda saat kita semakin dewasa. Tanpa kita sadari, akhirnya hanya beberapa teman saja yang masih ada.
4. Adanya Komitmen dan Ketersediaan. Didalam masa-masa kita menjadi dewasa, pasti ada saja kita mengalami masa masa sulit. Nah teman-teman yang bisa hadir saat kita susah inilah teman yang patut kita pertahankan. Mereka ada untuk kita bukan hanya di masa senang, namun juga di masa terpuruk.
5. Faktor Fisik/Mental. Usia kita tidak bisa bohong. Saat semakin beranjak tua, kita tidak sebebas bahkan seaktif dulu. Kita jadi cenderung banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang semasih muda dulu. Apalagi mau bersosialisasi, rasanya mager sekali, bukan?
Namun, dibalik semua faktor-faktor diatas, memiliki lingkar pertemanan yang kecil tetap punya nilai yang positif seperti kita jadi punya koneksi yang lebih dalam dan relevan sehingga memungkinkan kita mengurangi drama yang tidak penting. Kita pun jadi lebih punya banyak waktu sendiri, apalagi diusia yang beranjak tua.
Sekali lagi, menyikapi sedikitnya pertemanan diusia ini tidak perlu diambil pusing. Ingatkan selalu diri kita berteman itu soal kualitas, bukan masalah kuantitas lagi. Kita juga perlu kelapangan hati menerima kewajaran ini sebagai bentuk perubahan dan bagian dari fase kehidupan. Tidak perlu resah karena kita punya teman sedikit, asal punya teman yang berkualitas dan mau diajak berkembang bersama. Kalau sudah tahap menerima ini, artinya itu sebagai bentuk bahwa kita punya tanda kematangan dalam berpikir.
Nah, sekali lagi, tidak perlu risau teman teman kita semua tidak serame dulu lagi. Kita sudah ada dalam fase menerima perubahan ini sebagai bentuk kedewasaan. Semakin kita tua, kita harusnya pintar membuat prioritas termasuk dalam memilih lingkar pertemanan kita. Tidak masalah sedikit, karena memang tidaklah seburuk itu.
Akhirnya, mari lebih menghargai orang orang yang masih ada disisi kita sampai hari ini. Mereka adalah orang-orang yang terbaik yang masih ada, mengenal kita dengan baik buruknya, memilih tetap bersama kita dan menjadi sahabat yang saling mendukung dan berkembang diusia yang tidak lagi muda. Meskipun circle kita semakin mengecil, tapi merekalah orang-orang yang selalu memberikan kita dukungan, doa, tawa dan waktu berharga dari dulu, sekarang hingga nanti.
Amelia Novita Gosal/Author Prestma