Oleh : Jufri
Dalam sebuah kutipan yang sering beredar di ruang-ruang diskusi intelektual, pemikir revolusioner Indonesia Tan Malaka pernah mengatakan, “Penguasa suka rakyat religius asal tak kritis. Karena doa lebih mudah diarahkan daripada pikiran yang merdeka.” Kalimat ini terasa tajam, bahkan mungkin mengusik sebagian orang. Namun jika direnungkan dengan tenang, ia sebenarnya mengandung peringatan penting dalam kehidupan berbangsa dan beragama.
Agama pada hakikatnya tidak pernah memusuhi akal. Dalam Islam, akal justru ditempatkan sebagai anugerah besar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia dengan pertanyaan yang menggugah kesadaran: afala ta’qilun—mengapa kalian tidak berpikir. Karena itu religiusitas yang sejati tidak pernah mematikan nalar, apalagi meniadakan daya kritis manusia.
Namun dalam perjalanan sejarah, seringkali agama dipersempit hanya pada ritual dan simbol. Kesalehan diukur dari panjangnya doa, rajinnya ibadah, atau kuatnya ekspresi religius. Padahal agama juga mengajarkan keberanian menegakkan keadilan, kejujuran moral, serta tanggung jawab untuk mengingatkan kekuasaan ketika ia menyimpang dari jalan yang benar.
Di sinilah kegelisahan yang tersirat dalam kutipan tersebut menemukan relevansinya. Masyarakat yang religius tetapi tidak kritis berpotensi menjadi masyarakat yang mudah diarahkan. Doa tetap dilantunkan, ibadah tetap dijalankan, tetapi keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan menjadi lemah. Agama akhirnya hanya menjadi ruang pelarian spiritual, bukan sumber etika sosial yang menggerakkan perubahan.
Padahal dalam sejarah Islam, para ulama besar justru menunjukkan bahwa iman yang kuat selalu melahirkan keberanian berpikir dan berjuang. Mereka tidak hanya berdoa di ruang ibadah, tetapi hadir di tengah pergulatan sosial, politik, dan peradaban.
Kita dapat melihatnya pada sosok Sayyid Qutb. Melalui karya monumentalnya Fi Zilal al-Qur’an, ia berusaha menghadirkan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan yang melahirkan masyarakat yang adil dan bermartabat. Pemikirannya yang kritis terhadap kekuasaan membuatnya harus merasakan penjara panjang pada masa pemerintahan Gamal Abdel Nasser. Bahkan akhirnya ia dihukum mati. Namun sejarah mencatat bahwa ia tidak hanya berdoa, tetapi juga menulis, berpikir, dan mempertahankan keyakinannya tentang keadilan.
Di Indonesia, kita mengenal ulama besar Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Ia bukan hanya seorang dai, tetapi juga sastrawan, pemikir, dan penulis yang produktif. Ketika ia dipenjara pada masa pemerintahan Sukarno, Hamka tidak berhenti berkarya. Justru dalam keterbatasan itu lahirlah karya besar Tafsir Al-Azhar, sebuah tafsir yang hingga kini menjadi rujukan penting bagi umat Islam di Nusantara. Penjara tidak mematikan pikirannya, bahkan justru menguatkan kedalaman refleksi intelektualnya.
Dalam sejarah yang lebih luas, banyak ulama yang menunjukkan bahwa religiusitas selalu berjalan beriringan dengan keberanian berpikir. Muhammad Abduh mendorong pembaruan pemikiran Islam dan pendidikan modern. Rashid Rida menyebarkan gagasan pembaruan melalui tulisan dan jurnal intelektual. Di Indonesia, Ahmad Dahlan membangun gerakan pendidikan dan sosial yang melahirkan kesadaran keagamaan yang progresif. Sementara Hasyim Asy’ari memperkuat tradisi keilmuan pesantren sekaligus memimpin perjuangan moral melawan kolonialisme.
Semua tokoh tersebut memberi pelajaran penting: doa memang merupakan kekuatan spiritual yang besar, tetapi doa tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab manusia untuk berpikir dan bertindak. Doa memberi ketenangan batin, sementara nalar memberi arah bagi tindakan. Ketika keduanya berjalan bersama, lahirlah pribadi-pribadi yang bukan hanya saleh secara spiritual, tetapi juga berani memperjuangkan kebenaran.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang rajin berdoa, tetapi juga bangsa yang memiliki warga yang berpikir jernih, kritis, dan bertanggung jawab. Dalam masyarakat seperti itu, agama tidak menjadi alat pembius kesadaran, tetapi menjadi sumber pencerahan moral yang menjaga keadilan.
Karena pada akhirnya, doa yang tulus dan pikiran yang merdeka sebenarnya tidak pernah bertentangan. Justru keduanya adalah dua sayap yang membuat manusia mampu terbang lebih tinggi menuju peradaban yang lebih adil, bermartabat, dan berkeadaban.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni