Kebanggaan yang Memberhalakan

Oleh : Jufri

Pagi ini, entah mengapa pikiran saya berwisata ke mana-mana. Dari satu perenungan ke perenungan lain, hingga akhirnya ia seakan singgah pada sebuah tema besar yang terasa sangat dekat sekaligus menakutkan: tentang berhala. Setelah membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan watak manusia yang mudah berbangga diri terhadap apa yang dimilikinya, saya mulai menyadari bahwa kebanggaan yang berlebihan itu tidak selalu berujung pada rasa syukur. Dalam banyak keadaan, ia justru menjelma menjadi sesuatu yang lain , membangun berhala-berhala baru di dalam diri manusia, tanpa disadari, tanpa disembah secara nyata, tetapi ditaati sepenuh hati.

Di tengah perenungan itu, saya sendiri tentu merasa takut dan khawatir. Jangan-jangan dalam perjalanan hidup ini, tanpa sadar saya ikut membangun berhala di dalam hati. Berhala kebanggaan atas jabatan, berhala pengakuan sosial, berhala ilmu, atau bahkan berhala atas rasa merasa paling benar. Dalam kegelisahan itu, yang bisa saya lakukan hanyalah memohon ampun kepada Allah, seraya berdoa agar dijauhkan dari sikap yang menempatkan sesuatu selain-Nya sebagai pusat kemuliaan hidup.

Jika pada masa lampau berhala berwujud patung dari batu atau kayu yang disakralkan dan disembah, maka berhala modern hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus. Ia tidak dipahat, tidak berdiri di altar, dan tidak disembah dengan ritual. Ia hidup dalam kesadaran manusia — berupa kebanggaan berlebihan terhadap jabatan, kekayaan, gelar akademik, popularitas, maupun pengaruh sosial.

Inilah paradoks zaman modern. Manusia merasa telah merdeka dari simbol-simbol kuno, tetapi tanpa sadar justru membangun simbol-simbol baru yang lebih kuat mencengkeram batin. Jabatan diposisikan sebagai sumber kehormatan tertinggi. Kekayaan dijadikan ukuran keberhasilan hidup. Gelar akademik dianggap sebagai legitimasi kebenaran. Popularitas dipersepsikan sebagai bukti kualitas diri.

Dalam perspektif spiritual, terutama dalam tradisi tasawuf, berhala tidak selalu berada di luar diri manusia. Ia justru sering bersemayam di dalam hati: berupa ego yang membesar, nafsu akan pengakuan, serta keinginan untuk dihormati. Penyakit riya, ujub, dan takabur tidak hilang hanya karena manusia hidup di era modern. Ia hanya berubah bahasa dan cara tampil.

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya pemberhalaan ini tidak berhenti pada level individu. Ia merambat ke dalam struktur sosial dan politik. Dalam birokrasi dan ruang kekuasaan, otoritas sering diperlakukan seolah tidak boleh disentuh kritik. Loyalitas kepada individu lebih diutamakan daripada kesetiaan kepada nilai dan kebenaran. Integritas kerap dinegosiasikan demi mempertahankan posisi. Bahkan hukum bisa kehilangan wibawanya ketika harus berhadapan dengan kepentingan kekuasaan.

Di titik inilah Tauhid menemukan relevansinya yang paling mendalam. Tauhid bukan sekadar konsep teologis tentang keesaan Tuhan, tetapi juga prinsip pembebasan manusia dari segala bentuk ketundukan yang merendahkan martabatnya. Jabatan hanyalah amanah, bukan mahkota kemuliaan. Kekayaan hanyalah sarana, bukan identitas diri. Ilmu adalah cahaya penuntun, bukan alat legitimasi kesombongan. Kekuasaan adalah tanggung jawab, bukan ruang pemuasan ego.

Refleksi ini menjadi penting di tengah masyarakat yang semakin kompetitif dan materialistik. Tanpa kesadaran spiritual yang terus diperbarui, manusia bisa merasa paling modern dan rasional, padahal sesungguhnya sedang membangun berhala-berhala baru dalam hidupnya. Ia tidak lagi sujud kepada patung, tetapi sujud kepada ambisi, ketakutan kehilangan status, dan kebutuhan akan pengakuan.

Maka persoalan terbesar manusia modern bukan sekadar kemiskinan materi atau keterbatasan ilmu, melainkan kehilangan kejujuran batin untuk mengenali berhala yang ia pelihara sendiri. Ia sibuk merobohkan simbol-simbol masa lalu, tetapi diam-diam membangun altar baru dalam dirinya: altar kekuasaan, altar kesombongan, altar pengakuan.

Kita hidup di zaman ketika manusia bisa berbicara lantang tentang keadilan, tetapi tunduk pada jabatan. Bisa mengajarkan kesederhanaan, tetapi memuja kemewahan. Bisa menyerukan Tauhid, tetapi memilih diam di hadapan ketidakbenaran karena takut kehilangan posisi. Di sinilah iman diuji bukan oleh kemiskinan, tetapi oleh kemuliaan semu yang memabukkan.

Sesungguhnya berhala modern tidak meminta manusia bersujud di hadapannya. Ia hanya meminta satu hal: jangan pernah berani kehilangan dirinya. Jangan berani kehilangan jabatan. Jangan berani kehilangan pengaruh. Jangan berani kehilangan pujian. Dan ketika ketakutan itu menguasai hati, maka manusia telah menjadi hamba — bukan lagi hamba Tuhan, tetapi hamba status dan ambisi.

Karena itu, membebaskan diri dari berhala zaman ini membutuhkan keberanian moral, kejernihan spiritual, dan kejujuran intelektual. Ia menuntut manusia berani berdiri tegak, bahkan ketika seluruh dunia menyuruhnya tunduk. Ia menuntut manusia berani kehilangan segalanya, demi tidak kehilangan dirinya sendiri.

Pada hakikatnya, kemuliaan sejati bukanlah ketika manusia berada di puncak kekuasaan, melainkan ketika ia tetap rendah hati di hadapan kebenaran. Bukan ketika namanya dielu-elukan, tetapi ketika hatinya tetap sunyi dari kesombongan. Sebab sejarah berkali-kali mengajarkan: peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak manusia yang rela menjadi penyembah berhala , dalam bentuk yang paling modern, paling halus, dan paling terhormat .

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *