Pernah nggak, tubuhmu diam, tapi pikiranmu sibuk? Saat semua orang sudah terlelap, kamu masih terjaga—bukan karena belum mengantuk, tapi karena otakmu belum mau berhenti bekerja. Ada percakapan yang terus kamu ulang di kepala, walau sudah lewat berhari-hari. Ada skenario masa depan yang kamu reka-reka, lengkap dengan kekhawatiran yang bahkan belum tentu terjadi. Ada rasa takut yang terus menghantui, walau tak pernah kamu akui.
Kenapa pikiran kita begitu ribut bahkan saat dunia sedang sepi?
Mungkin karena kita hidup di zaman yang terlalu ramai. Terlalu banyak suara dari luar: notifikasi yang tak pernah berhenti, ekspektasi yang tak pernah habis, dan standar yang terus naik. Kita tumbuh di lingkungan yang mengagungkan produktivitas, seolah diam itu dosa, dan lambat itu kegagalan. Kita dikejar waktu, tapi tidak pernah diajari bagaimana memberi jeda.
Tanpa sadar, kita menjadikan kesibukan sebagai pelarian. Kita lebih memilih sibuk bekerja, sibuk membantu orang lain, sibuk membuat rencana, daripada duduk tenang dan menghadapi perasaan yang selama ini kita abaikan. Karena diam kadang membuat kita harus berhadapan dengan hal-hal yang selama ini kita hindari kesedihan yang tak pernah diakui, rasa kecewa yang terpendam, atau pertanyaan tentang hidup yang belum ada jawabannya.
Pikiran jadi overaktif bukan karena kita bodoh atau lemah. Tapi karena selama ini kita tak pernah benar-benar memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat. Kita terus menumpuk hal-hal yang belum selesai, terus memaksa diri untuk berfungsi, terus melanjutkan hari seolah semua baik-baik saja. Padahal, yang lelah bukan hanya tubuh tapi juga hati yang tak pernah didengarkan, dan pikiran yang tak pernah diberi waktu untuk tenang.
Saat kita diam, barulah kita bisa mendengar. Mendengar suara hati yang selama ini tertutup bisingnya dunia. Mendengar luka yang belum sembuh. Mendengar diri sendiri yang ingin dipeluk. Diam bukan berarti tidak bergerak. Diam adalah bentuk keberanian untuk menghadap ke dalam, bukan sekadar sibuk ke luar.
Jadi, kalau pikiranmu terasa terlalu ramai akhir-akhir ini, mungkin itu tanda bahwa kamu sudah terlalu lama menjauh dari dirimu sendiri. Coba beri waktu sebentar. Matikan suara dari luar. Tenangkan napas. Dan dengarkan apa yang ingin kamu katakan pada dirimu sendiri.
Kadang, ketenangan bukan datang dari tempat baru, tapi dari keberanian untuk diam sejenak, di tengah semua yang berisik.
Raihan Rosidah/Author Prestasi Muda