Meraih Prestasi Dari Keterbatasan

Meraih Prestasi dari Keterbatasan: Dari Duka, Aku Belajar Bangkit

“Saat hidup menghantam paling keras, disanalah aku belajar berdiri menjadi lebih kuat.”
—sonia Sukma Wijaya—

Dulu, Aku Hidup dalam Kecukupan finansial dan kesenangan. Kini,Aku Hidup dalam Perjuangan dan kehilangan masa jaya orang tua setelah papaku pensiun disaat aku kelas 5 SD,dari SD kelas 6 sampai SMP hingga aku sekarang SMA masuk tahun ke ketiga diSMA Masi dibawah kecukupan, Aku bukan anak yang lahir dalam kesusahan. Dulu, keluargaku cukup berada. Masa kecilku dihiasi dengan kehangatan, kasih sayang,fasilitas, dan rasa aman.
Tapi semua itu berubah…
Ketika masa kejayaan orang tuaku runtuh,masa pensiunan pns papaku yang menghampiri dan kemudian Mamaku jatuh sakit stroke tahun 2018 sampai tahun 2021 berselang 2 tahun setelah itu papaku perlahan jatuh sakit. kemudian berselang satu tahun papa sembuh namun Mama pergi selamanya dan tanpa aku sadari kehilangan mama membuat aku sadar bahwa dia tidak akan kembali lagi dan merayakan pencapaian kecil ku, menyisakan papa yang mendampingi jalanku seorang diri.
Kehilangan beliau bukan cuma kehilangan seorang ibu, tapi juga kehilangan semangat hidup, tempat bersandar, dan rasa percaya diri, ibarat kata “aku seperti orang buta yang kehilangan tongkatnya”

Aku jatuh dalam jurang gelap bernama depresi. Dunia yang dulu hangat, tiba-tiba terasa asing dan dingin lalu rumah yang sering ramai dengan canda tawanya perlahan mulai sepi dan sunyi.

“Rumah yang terasa bukan rumah”
Anak bungsu yang kehilangan arah semenjak mamanya meninggal
Sekuat apapun seorang anak bungsu itu pasti ada titik rapuhnya
Walaupun kondisi mentalnya hancur, tidak merasakan masa jaya orang tuanya dan hanya menyisakan masa tuanya
Rasa penyesalan yang kian menggebu kemudian kehilangan separuh jiwanya
“Tidak ada rumah untuk kembali kembali kemasa itu”

Nyatanya anak bungsu itu merangkul semua luka dan harapan sendirian
Permasalahan yang terlalu rumit
Faktanya aku adalah seorang anak perempuan yang hampir ngak pernah mengekpresikan perasaannya

TIDAK ADA YANG BISA MEMAHAMIKU SELAIN MAMA:)
dirumah itu ada keheningan yang hanya dimengerti oleh anak bungsu yang jarang bercerita,tapi siapa yang benar-benar ingin mendengarkan ceritanya?
Cerita itu terpendam ibarat buku yang tak pernah dibuka.namun ia tenang dengan dunianya.
Aku ialah anak bungsu yang tumbuh dalam sunyi yang menguatkan dan mandiri dalam keheningan yang menghampiri.
Ketika aku merasa kesepian dan kangen mama,aku berusaha tersenyum dengan cara melihat fotonya lalu mengalihkan dengan bermain atau mengurung diri dikamar.
Biasanya anak bungsu itu sering dilabeli:
Sebagai si kecil yang tidak perlu terlalu dipusingkan

Dari Keterpurukan, Aku Mulai Mengenal Diriku Sendiri.Satu per satu impian yang sempat pudar dan pupus itu Tapi di tengah keputusasaan, ada satu bisikan kecil di hatiku:
“Kamu masih di sini. Dan itu artinya kamu punya kesempatan untuk bertumbuh.”
Aku mulai mencoba bangkit, meskipun ragu, gugup, ingin menyerah,menghampiri bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tahu Mama ingin aku terus berjalan dan menunggu versi terbaik dari diriku nantinya. setelah gagal masuk SMA impian, rasanya aku frustasi dan malas untuk mengukir prestasi, namun aku sadar dan pekembalimemulainya kembali.
Aku mulai menulis yang biasanya hanya tersusun di perpustakaan kecil ku, namun sekarang bisa dibaca orang lain,mulai belajar lagi, mulai bergabung dengan komunitas yang selaras dengan tujuan dan potensi yang aku miliki, mengikuti seminar/webinar dan bootcamp data analyst untuk terus melatih bakat yang pada akhirnya aku bisa membangun personal branding, hingga aku bisa lolos menjadi finalis duta penggerak muda Indonesia 2025, punya prestasi tingkat nasional, hingga menjadi award sayembara beasiswa pon Indonesia,jadi narasumber dibeberapa acara,lalu berkat rasa percaya diri yang terus aku latih hingga berani untuk tampil didepan umum dan berkolaborasi dalam podcast diforum puan inspiratif
Aku mengubah rasa kehilangan menjadi alasan untuk mengembangkan diri, bertahan hanya beralasan amanah mama.

Keterbatasan dan hidup dalam krisis finansial Melatihku Menjadi Tangguh, tidak takut dengan keputusan dan resikonya,
Tidak ada lagi kemudahan,karna Aku harus belajar banyak hal sendiri Tapi justru dari situlah aku menemukan kekuatan:
Problem Solving.
Dulu apa-apa tinggal minta. Sekarang aku harus lebih hemat,kalo mau daftar suatu kegiatan harus memikirkan bagaimana cara bayar insertnya sendirian,mencoba dan mengusahakan mimpi-mimpi itu sendirian disisa-sisa usia orang tuaku.
Dan hidup dalam bayang-bayang kakak-kakakku yang sedang kuliah dimana masih membutuhkan biaya namun disisi lain mengalami kesusahan.

Growth mindset:
Aku belajar bahwa aku bukan “anak dari keluarga dulu yang sukses” tapi aku adalah aku yang bisa sukses karena kerja keras, ketekunan,dan berani bangkit dari ruang depresi itu.
Percaya Diri.
Aku belajar tampil, bicara di depan umum, ikut kompetisi, dan berdamai dengan luka,masa lalu. Bukan karena aku selalu menang tapi karena aku terus mencoba menepis rasa kesedihan itu.

Prestasi yang Tumbuh dari Luka:
Hari ini, aku berdiri bukan sebagai anak dari orang kaya, bukan anak yang punya koneksi dan relasi atau fasilitas yang memadai.
Tapi sebagai anak yang pernah jatuh, terpuruk dan memilih untuk bangkit.
Aku jadi duta penggerak, narasumber, penulis cerita , pengurus organisasi, dan anggota pelajar penggerak,dan saat ini aku juga terpilih sebagai vice distrik manager yout rangers Indonesia regional sumatera 1. Bukan karena aku sempurna, tapi karena aku tidak berhenti dan terus bangkit karna aku tidak mau stuck diruang yang gelap,titik dimana aku tidak akan sampai disini.

Untuk Kamu yang Sedang di Titik Terendah, terpuruk,luka mental:
Mungkin kamu sedang dalam fase terpuruk. Mungkin kamu kehilangan seseorang yang kamu cintai
Mungkin kamu sedang lelah berjuang
Mungkin kamu mengalami depresi,stres,luka batin
Mungkin keluargamu sedang dalam masalah.
Tapi tolonglah karna Kamu masih bisa meraih mimpi, bahkan dari titik paling gelap sekalipun.
Kamu tidak harus kuat setiap waktu. Tapi kamu bisa memilih untuk tidak menyerah.
Karena keterbatasan bukan akhir cerita. Itu adalah awal dari bab baru yang lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih berprestasi.

Aku, Kamu, Kita Bisa:
Aku tidak ingin kamu menyerah
Aku ingin kamu tahu bahwa kamu juga bisa.
Aku ingin kamu pulih dari luka itu
Keterbatasanmu hari ini bisa jadi alasan kamu bersinar besok.
Rasa sakitmu bisa jadi sumber empati dan semangatmu untuk bangkit lagi
Dan kehilangan seseorang bisa jadi pengingat bahwa hidup ini berharga untuk diperjuangkan.

Keterbatasan bukanlah penghalang, tapi undangan untuk tumbuh dan melampaui diri.
“Aku cuma anak biasa, dari desa. Kayaknya gak mungkin bisa berprestasi kayak mereka.”
Pernahkah kamu berpikir seperti itu? Bahwa karena latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, fasilitas sekolah, atau keadaan fisik, kamu merasa sulit untuk bersinar?
Kenyataannya, banyak tokoh berprestasi justru lahir dari keterbatasan. Bukan karena hidup mereka mudah, tapi karena mereka tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tidak berkembang

penulis:

^⁠♪Sonia Sukma Wijaya^⁠♪
—Duta Penggerak Muda Indonesia 2025—
“Aku bukan siapa-siapa, tapi aku memilih menjadi seseorang yang terus melangkah, meskipun tertatih-tatih oleh keadaan, walaupun tanpa dukungan, nyatanya lambat Laun aku tetap bisa sampai dipuncak keberhasilan itu.”

One thought on “Meraih Prestasi Dari Keterbatasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *