“Oh, kamu kuliah di swasta? Sayang banget, padahal nilai kamu bagus.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa, namun menyisakan luka yang sangat membekas bagi mahasiswa yang melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta. Di Indonesia, banyak orang yang sering membandingkan antara pendidikan di negeri dan swasta. Banyak orang yang berpikir bahwa di swasta itu anak yang tidak pintar dan hanya mengandalkan uang untuk bisa masuk. Realitanya tidak!
Setiap tahun, lebih dari 1 juta siswa SMA di Indonesia bersaing ketat dengan kakak tingkat untuk meraih impian melajutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri yang sudah lama mereka impikan. Namun hanya segelintir siswa yang ingin melanjutkan studi mereka di Perguruan Tinggi Swasta. Label “negeri = bagus, swasta = jelek” sangat kuat di kalangan pelajar dan orang tua. Tak sedikit dari mereka yang malu jika tidak melanjutkan studi di kampus negeri, utamanya di Top 10 PTN.
Jika kita melihat realita dunia pendidikan, universitas yang bertengger di Top 5 Perguruan Tinggi terbaik di dunia mayoritas adalah Perguruan Tinggi Swasta. Katakan saja seperti MIT yang menduduki peringkat #1 perguruan tinggi terbaik di dunia berdasarkan QS World University Ranking. Indonesia sendiri memliki kampus swasta yang terbaik dalam bidang bisnis dan IT. Binus University, Telkom University, dan Prasetiya Mulya University contohnya. Kurikulum mereka dirancang sebaik mungkin untuk bisa mengikuti perkembangan zaman.
Tapi benarkan siswa yang malanjutkan studi di universitas swasta tidak pintar? Menilik dari hasil kompetisi, universitas swasta tidak seburuk itu. Binus University meraih juara 1 dan juara 2 lomba competitive programming yang diselenggarakan secara daring oleh Universitas Hasanuddin, Telkom University berhasil meraih medali emas dalam kompetisi Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) tahun 2024, Prasetiya Mulya University raih juara 2 Share International Business Case Competition pada tahun 2024. Pencapaian prestasi tersebut tentunya hanya segelintir dari pencapaian mereka.
Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengukur prestasi dengan bertanya “dari kampus mana”, melainkan apa yang sudah kamu pelajari selama masa studi mu. Dunia tidak peduli dari mana kamu berasal, melainkan bagaimana kualitas dirimu. Semua institusi pendidikan sudah mempersiapkan segalanya, baik negeri maupun swasta. Dan jika kamu masih meremehkan swasta, mungkin kamu yang perlu belajar ulang: bahwa kualitas bukan milik satu warna almamater saja.